IMG_20170419_162032_HDR

Cahya Mahasukma Habsari – 1471507291 – SA

Jakarta,30 April 2017. Ini ceritaku pada PILKADA DKI 19 April kemarin. Pada hari Rabu yang notabennya sekolah dan lembaga pendidikan manapun di wilayah DKI Jakarta seharusnya libur hari itu. Tapi, dosen kami meminta untuk kami ikut berpartisipasi dalam kawal PILKADA pada hajatan besar DKI Jakarta hari itu. Aku bangun pagi-pagi sekali untuk datang ke TPS yang sudah di tentukan untuk aku liputan. ”cah,bangun pagi banget udah kayak mau sholat ied dah!” celetuk temanku pagi itu. hahaha. Memang iya, aku bangun pagi sekali untuk bisa bertemu dengan ketua KPPS agar mendapat ijin liputan.sebelum ramai pemilih.

Sedikit deg-degan takut tidak mendapat ijin liputan di hari itu, karena beberapa temanku di tolak mentah-mentah oleh ketua RT setempat karena tak memiliki surat ijin liputan.dan tidak memungkinkan membuat surat ijin liputan saat itu. Sebenarnya, untuk bisa mendapat foto surat C1 ataupun liputan di TPS itu biasanya tidak di permasalahkan. Tapi kalian pasti tau lah.. dengan cerita-cerita yang menyertai PILKADA DKI 2017 ini. Dari semenjak putaran pertama dan berlanjut pada putaran kedua ini. Berbagai bumbu yang ada di PILKADA DKI ini membuat suasana pesta rakyat ini sedikit panas. Mulai dari kasus penistaan agama yang menimpa salah satu calon, perang status dari masing-masing pendukung calon, hingga berbagai sumpah yang di ucapkan para pendukung jika paslon yang di jagokannya menang.

Karena hal – hal itulah membuat beberapa TPS memperketat peraturan untuk memberi ijin orang orang asing yang hadir di TPS. Aku mendatangi TPS 20 Petukangan Utara hari itu. saat para petugas bersiap menerima para pemilih. Dengan jilbab panjang yang aku pakai pertanyaan pertama  yang mereka ajukan pada ku adalah apakah aku dari salah satu partai pendukung paslon? Dengan sedikit geli. Aku menjawab bukan. Dan segera mengeluarkan kartu mahasiswaku sebelum mereka lebih curiga lagi. mereka lalu mengijinkanku untuk mengambil gambar tapi melarangku untuk masuk ke TPS. Bagaimana mungkin? Sedangkan aku membutuhkan foto c1 dan beberapa gambar suasana pemilu untuk tugas ini.

Dengan nada memohon. Aku coba jelaskan bahwa ini hanya tugas kampus dan mengharuskan ku masuk nanti saat perhitungan suara. Dan akhirnya petugas TPS itu mengijinkan aku melakukan liputan hari itu. pfft.. hampir saja. Kalau tidak maka nilai UAS ku akan terancam. Sembari menunggu pukul 12 datang. Aku menunggu di tempat kos umi, temanku. Bersama 2 orang teman lainnya yang mendapat tugas yang sama. Dan akhirnya kami  harus menunggu jam perhitungan suara di Rumah Sakit karena temanku umi yang harus di infus karena asam lambung hari itu. Tepat jam 12 aku kembali ke TPS 20 tempatku bertugas. Aku duduk di kursi pemilih. Bingung kapan aku bisa melakukan live report karena suasana yang begitu ramai. Aku fikir. Aku datang di jam jam siang karena biasanya di jam itu TPS sudah mulai sepi. Tapi ternyata tebakanku salah. Makin sore warga semakin banyak yang datang ke TPS. Dan akhirnya aku terpaksa sedikit melupakan rasa maluku untuk dapat melakukan live report di depan TPS.

Semakin sore justru semakin banyak warga yang berdatangan di TPS. Belum pernah aku melihat warga seantusias ini dalam sebuah pemlihan kepala daerah sebelumnya. Bahkan banyak sekali warga yang tidak terdaftar dalam daftar pemilih tetap yang rela menunggu berjam –jam  untuk mendapatkan hak pilihnya (Mereka harus menunggu lama karena mereka baru dapat memilih setelah daftar pemilih tetap habis). Padahal biasanya, Warga yang sudah terdaftar sebagai pemilih tetap saja malas untuk ke TPS. Saya meraskan antusias yang luar biasa pada PEMILU kali ini. bahkan saat tiba perhitungan suara warga berbondong –bondong ke TPS untuk bersama-sama menjadi saksi. Sempat terjadi sedikit kendala di TPS 20 karena perbedaan jumlah surat suara dan daftar hadir pemilih yang ada. Sehingga membuat perhitungan suara di undur. Tapi itu tidak membuat warga memilih untuk pulang. Justru semakin banyak yang datang dan menunggu perhitungan suara di lakukan. Dan akhirnya perhitungan suara di lakukan pukul 16.00 wib dan selesai pukul 17.00 wib dengan hasil akhir kemenangan di pegang oleh paangan nomor urut 3. Ini adalah pengalaman yang menegangkan sekaligus luar biasa menurutku. Karena seharusnya PEMILU itu di sambut dengan antusian seperti PILKADA DKI Jakarta ini. Terlepas dari berbagai konflik yang terjadi. Tapi justru itu yang membuat masyarakat memiliki semangat tinggi untuk ikut andil dalam menentukan masa depan kota mereka. seharusnya, semagat warga DKI ini dapat tertular pada seluruh masyarakat indonesia. Dan semoga tidak hanya dalam PILKADA 2017 ini saja mereka semangat dan menyadari betapa pentingnya suara mereka. tapi seterusnya dalam pesta rakyat yang selanjutnya. Semoga semakin banyak masyarakat indonesia dari seluruh tanah air yang menyadari betpa pentingnya satu suara mereka untuk masa depan kota dan negara mereka. dan dengan penuh semangat menggunakan hak pilih mereka.