IMG20170419150326

Umi Astuti – 1471501096 – SA

19 April 2017 lalu, DKI Jakarta menggelar pesta rakyat sebagai ajang pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk lima tahun ke depan. Nasib ibukota ditentukan dari pilihan warga Jakarta itu sendiri. Sebelumnya, semua orang pasti tahu drama yang menyelimuti kota metropolitan ini. Jauh sebelum hari pencoblosan, masing-masing pendukung paslon tak segan untuk saling lempar serangan guna membela kandidat dukungannya dan menjatuhkan pasangan lain.

Unsur SARA menjadi satu indikator dalam drama PILKADA. Beberapa orang bahkan tak merasa bersalah saat menghina saudara dan teman sendiri yang memutuskan untuk memilih pilihan yang berbeda. Entah itu karena alasan idealis, suku, hingga agama. Bukan hanya warga Jakarta yang merasakan ramai dan hebohnya drama seputar PILKADA, hampir seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan sebab semua media nasional tak berhenti mempertontonkan tayangan itu. Begitulah, sebab Jakarta adalah ibukota. Pusat dari Nusantara. Seakan, apapun yang terjadi di Jakarta, seluruh bangsa harus tahu. Padahal, siapapun yang menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta, belum tentu ada pengaruhnya untuk warga daerah lain.

Terlepas dari kisah dibalik PILKADA, aku sebagai mahasiswa rantau mau tidak mau harus terlibat (meskipun sederhana) atas nama tugas dari dosen. Aku ingat betul, dua hari menjelang PILKADA, dosenku meminta masing-masing dari mahasiswa untuk memotret formulir C1 di TPS yang dia tentukan. Kecuali bagi mahasiswa yang mencoblos di hari itu, maka ia diizinkan untuk memotret C1 di TPS tempat ia mencoblos. Namun, ada beberapa yang dosen itu izinkan untuk request TPS terdekat agar memudahkan proses produksi. Aku salah satunya. Memilih TPS 13 yang berada dekat dengan indekos.

Akhirnya, sore hari pada 18 April , aku datang ke sekretaris RT, Masjidil Harom dikarenakan ketua RT-nya sedang sakit dan memberikan amanah kepada sekretaris itu untuk mengurus TPS 13 pada 19 April 2017. Saat aku menyapa istri dari sekretaris RT, mengutarakan maksudku untuk mengambil gambar formulir C1 dan merekam suasana TPS, dia langsung bertanya, “Kamu dari tim sukses siapa?” Bagiku itu lucu. Membuktikan betapa panasnya PILKADA putaran II DKI Jakarta tahun ini. bahkan, untuk sebuah formulir C1 yang seharusnya semua orang boleh mendokumentasikan, mereka meminta surat izin dan persetujuan dari saksi dan panitia. Mereka mengira kalau aku adalah utusan partai PKS (entahlah, alasan apa yang membuat mereka berpikir hal demikian).

Tepat di hari eksekusi, 19 April 2017, sekitar pukul 07:00 WIB, aku dan dua temanku (Cahya dan Laili) datang ke TPS 13 untuk meminta izin sebelum proses pencoblosan dilakukan. Pihak panitia mengizinkan dan meminta kami datang kembali di saat penghitungan suara. Setelah itu, kami bertiga mengantarkan Cahya datang ke TPS tempat dia harus mengerjakan tugas, yaitu TPS 20. Usai mendapatkan izin, Cahya dan Laili menunggu di kamar indekosku. Beberapa menit berselang, musibah datang, perutku terasa nyeri luar biasa. Cahya dan Laili panik, mengerik punggung, membeli obat ke apotik diantar oleh Adi (yang beberapa menit setelah aku kesakitan datang karena dia juga harus mengerjakan tugas di TPS 12).

Oleh karena obat dari apotik tidak bekerja dengan baik, akhirnya aku memutuskan untuk datang rumah sakit petukangan diantar oleh Adi. Dokter memutuskan untuk memberi obat melalui infus dan ternyata aku menderita asam lambung. Luar biasa. Di hari yang seharusnya mengerjakan tugas negara, aku malah harus berbaring di rumah sakit. Akhirnya, Cahya meminta izin ke dosenku untuk mendapatkan keringanan dan dosenku mengizinkan kalau tugasku diwakili oleh Laili.

Jadi, Laili datang ke TPS, melihat suasana pada saat pencoblosan dan penghitungan suara sekaligus dia yang memotret formulir C1 menggunakan aplikasi Kawal Pilkada. Setelah semua selesai, aku mewawancari Laili untuk bahan review tugas ini. menurutnya, suasana di TPS 13 cukup kondusif. Warga menyambut pesta rakyat itu dengah antusias. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Apalagi, ada beberapa orang yahg Laili lihat mengenakan baju adat  betawi. Dan, yang lebih lucu saat proses penghitungan suara. Menurut Laili, anak-anak dan ibu-ibu berteriak heboh hingga salawatan saat pasangan calon nomor ururt 3 yang mendapatkan suara. Dan, sebaliknya, menyoraki dengan ledekan saat pasangan calon nomor urut 2 yang mendapatlan suara. Namun, sejauh yang Laili lihat, tak ada konflik berarti. Semua masih berjalan normal dan kondusif.

Aku menyesal karena tidak bisa menyaksikan langsung PILKADA putaran II ini, karena entah kapan lagi Jakarta akan dihebohkan drama hingga negara lain mengetahui. Namun, siapapun yang akan menjadi pemimpin Jakarta, semoga bisa menjadikan ibukota lebih baik. Akhir kata, #TerimakasihAHok dan #SelamatBekerjaAnies