1494699820759Foto Fernando Saputra – Suasana tampak depan Klenteng Boen Tek Bio, Kota Tangerang, Sabtu (6/5/16).

Tangerang Kota, Sabtu (6/5/15) – Berbicara tentang Kota Tangerang, selain terkenal dengan makanan khasnya, Kota Tangerang juga terkenal dengan keunikan klenteng – klenteng tua yang sampai sekarang masih ramai dikunjungi masyarakat baik dari masyarakat Kota Tangerang hingga masyarakat luar Tangerang. Salah satu Klenteng tertua di Tangerang yang sering dikunjungi oleh masyarakat adalah klenteng Boen Tek Bio.

1494699867853Foto : Fernando Saputra

     Klenteng Boen Tek Bio sendiri terletak di Jalan Cilame, No 14,  Pasar Lama, Kota Tangerang, Banten. Lokasi klenteng Boen Tek Bio berdiri di tengah-tengah kawasan pasar lama Kota tangerang, jadi jangan heran kalau kalian mau kesini harus melewati keramaian yang ada di kawasan pasar lama terlebih dahulu. Arti dan Makna dari nama Boen Tek Bio sendiri adalah Boen berarti sastra, Tek berarti kebajikan, dan Bio berarti tempat ibadah. Klenteng Boen Tek Bio sering di sebut sebagai Klenteng Kebajikan Benteng. Klenteng Boen Tek Bio didirikan pada tahun 1684 yang dimana menurut cerita klenteng ini didirikan oleh para kongsi dagang perkampungan petak sembilan secara gotong royong untuk mengumpulkan dana mendirikan klenteng ini.

1494699890890Foto : Fernando Saputra : Penampakan Altar Utama di Klenteng Boen Tek Bio atau Wadah dupa (6/5/17)

     Sebelum memasuki Klenteng ini, di bagian halaman depan klenteng akan terlihat dua patung singa. Patung singa sendiri menurut kepercayaan budaya tionghoa bisa menarik lebih banyak hawa rejeki , tetapi inti makna dari patung singa adalah untuk simbol kewibawaan dan simbol status sebuah klenteng, keluarga atau rumah. Pemasangan patung singa harus sepasang, masing-masing berjenis kelamin jantan dan betina, yang jantan terletak di samping kiri sedangkan yang betina posisinya di samping kanan pintu masuk. Telihat di halaman depan juga ada tempat pembakaran kertas (Kim Cua) kim cua sendiri dipercaya sebagai untuk melancarkan perjalanan leluhur kita di alam sana. Persis di depan pintu masuk, langsung terlihat berhadapan dengan altar utama. Altar adalah tempat sakral dimana upacara keagamaan berlangsung. Altar hanya terdapat di tempat-tempat yang suci. Biasanya yang terdapat dalam altar adalah air, dupa atau hio, pelita atau lilin dan bunga. Terkadang juga ada buah-buahan yang dimana merupakan makanan persembahan untuk leluhur.

1494699966413     1494699942542Foto : Fernando Saputra – Foto penampakan Hiyo (Sebelah kiri) Kimcua (Sebelah kanan)

Air sendiri berarti simbol kerendahan hati yang dimana air selalu mencari tempat yang lebih rendah untuk mengalir, dupa berarti keharuman nama baik, pelita atau lilin berarti simbol dari cahaya penerangan batin yang akan menghancurkan kegelapan batin, dan bunga berarti simbol dari ketidak kekalan. Karena bunga pasti akan layu yang dimana sama dengan manusia yang dimana kelak pasti akan tua, sakit dan meninggal. Di altar utama Klenteng Boen Tek Bio sendiri ada altar dewa langit (Yi Huang Tatien Zun), dewa bumi (Hok Te Cin Sin), dewa (Hai Lung Wang), altar Sang Buddha (Siddhartha Gautama) dan ada juga altar Dewi Kwam Im. Selain di altar utama tersebut, ada altar-altar lain juga yang terletak di bagian samping kiri kanan altar utama. Di altar sebelah kanan, diisi oleh altar Dewa Kha Lam Ya (Malaikat Pintu), altar Dewa Kong Ce Co Su (Dewa Obat), Dewi Thian Siang Seng Bo (Dewi Samudra), Dewa Sam Kwan Thay Tee (Kaisar 3 dunia) dan di bagian samping kiri ada altar Dewa Te Cong Ong Po Sat (Dewa Pelindung), Dewa Kwan Seng tee kun (Jendral Perang), Dewa Hok Tek Ceng Sin (Dewa Bumi) , Dewa Su Beng Cau Kun (Dewa Dapur).

Dikutip dari laman Boentekbio.org dan laman tempo.co.id, Klenteng Boen Tek Bio juga memiliki tradisi yang berbeda dengan kebanyakan Klenteng lainnya. Klenteng Boen Tek Bio mempunyai tradisi yang unik dan itu pun sudah berlangsung selama ratusan tahun yaitu tradisi Kwam Im Hud Cuo adalah upacara arak-arakan (gotong Toapekong) yang rutin dilaksanakan selama 12 Tahun sekali, di tahun imlek shio liong (Tahun Naga) bulan ke-8 menurut kalender Tionghoa. Arak-arakan ini berlangsung dengan mengarak patung Dewi Kwan Im Hud Couw sepanjang jalan, tujuannya adalah untuk menolak bala dan membersihkan hawa jahat yang ada di bumi agar kehidupan masyarakat berjalan damai, aman dan sejahtera. Banyak seni yang ditampilkan dalam arak-arakan Toapekong itu, seperti ada atraksi Barongsay.