DSC_0985Silat betawi kaga lepas sama sejarah kota Jakarta tempo dulu, sejak dulu jakarta udah jadi tempat saling bertemunya berbagai macam budaya, suku bangsa, seperti suku suku dari daerah nusantara dan bangsa bangsa lain.

Perjalananan panjang sejarah Jakarta yang menimbulkan pada masyarakat yang mendiaminya, menurut ahli Antroplog Universitas Indonesia, Dr Yasmin Zaki Shahab MA, memperkirakan etnis betawi terbentuk sekitar tahun 1815 – 1893. Nah oleh sebab itu orang betawi bisa dibilang sebagai pendatang baru di Jakarta. Kelompok etnis betawi muncul dari perpaduan berbagai macam etnis lainnya yang sudah terlebih dahulu hidup di Jakarta seperti orang Sunda, Jawa, Arab, Bali, Sumbawa, Ambon dan Melayu.

Dari berbagai macam budaya dan bangsa inilah yang menimbulkan terjadinya pertukaran seni, budaya, adat istiadat hingga ilmu beladiri yang berkembang saat itu atau yang biasa disebut Maen Pukulan (silat), Silat diperkirakan muncul pada abad 16 dimana pada masa itu masyarakat sering mempertunjukkan seni silat pada acara perkawinan sebagai palang pintu atau nyambut tamu begitu pula dengan acara khitanan. Hal ini menjelaskan bahwa silat tidak hanya untuk ilmu beladiri namun menjadi suatu produk sosial, seni budaya yang mengakar dalam kehidupan sehari-hari.

DSC_0991

Maen Pukulan telah mewarnai kehidupan masyarakat betawi, hal tersebut menjadi hal yang wajib dipelajari. Silat betawi terkenal dengan aliran-alirannya yang menurut pada asal kampung perkembangannya.

Jikalau kita berbicara tentang silat betawi banyak kenangan dan cerita legenda superioritas jawara-jawara Betawi zaman silam. Salah satu kisah heroisme Bang pitung, pesilat yang berasal dari kampung Rawa Belong Kelurahan Sukabumi Utara Jakarta Barat. Bang Pitung cukup terkenal  karena keberaniannya untuk membela rakyat kecil, dengan cara “merampok” orang Belanda dan memberikan hasil rampasannya tersebut kepada orang-orang miskin yang membutuhkan.

Demikian dikemukakan Margreet van Till (Belanda) dalam makalah/disertasinya, In Search of si Pitung, the History of an Indonesia Legend (1996), sepak terjang Bang Pitung menjadikan beliau sebagai incaran Belanda. Karena penghianatan kawan seperguruannya, Bang Pitung ditembak mati oleh Schout Van Hinne terjadi pada 16 Oktober 1893. Ia lalu dibawa ke rumah sakit dan esoknya meninggal dunia.