Jakarta – Kru BTV021 (batavia) dibentuk oleh DARTE1 dan almarhum CNGR, bersama dengan teman-teman satu lingkungan: YUK07, HAPZ, TIROE1, NELI4, FAKER, BAKE, KAJE, DOEMS, dan SEND7. Kebanyakan anggota kru BTV merupakan teman satu lingkungan yang dipertemukan lewat ketertarikan mereka dengan street culture macam graffiti, hip-hop, skateboarding, dan BMX.

“Awalannya ini kru sebenernya bukan bertujuan buat graffiti, soalnya emang gua udah beberapa temen yang udah dibilang satu atap,” jelas DARTE1.

Jika dibandingkan dengan nama-nama besar di scene street art Indonesia seperti Darbotz, Eko Nugroho atau POPO, maka SEND7 bersama rekan-rekannya di bawah bendera BTV tergolong tidak populer. Mereka bahkan tidak menganggap diri mereka seniman. Bagi kru BTV, graffiti adalah ranah bagi para ‘penulis’—biasa disebut writer. Graffiti bukanlah ‘hanya’ karya seni, melainkan suara jalanan, rekaman hidup para kru dan writer yang menganggap ibukota negara ini sebagai rumah.

Aktivitas graffiti BTV sangatlah berbahaya. SEND7 pernah patah lengannya ketika jatuh dari kotak lampu papan billboard di Kemang. Pernah juga kepalanya dipukul dengan kaleng pilox yang dia bawa oleh seorang satpam

saat seorang seniman graffiti berjuluk SEND7 bergantung di sebuah jembatan penyeberangan Jalan Warung Buncit, Jakarta Selatan. Berdiri di bawah jembatan, saya menyaksikan dia beraksi bersama dua anggota kru BTV021: BONGR dan DARTE1. SEND7 (dibaca “sendseva”) mencoret sebuah throw-up khasnya yang berukuran besar di sebuah billboard kosong. Setelah 20 menit, sepatu Nike usang yang dikenakan SEND7 kembali menyentuh tanah. Ketiga anggota kru BTV meloncat ke atas motor-motor vespa mereka yang butut, bersiap menuju rute ngebom mereka berikutnya. Aksi mereka akan berlangsung semalaman penuh.

Awalnya bermula sebagai penyaluran rasa frustrasi, kini graffiti menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. SEND7 mengatakan bahwa keluar malam-malam ngebom sudah seperti gosok gigi atau mandi. Mengapa mereka ngotot berkutat di dunia graffitic biarpun ada resiko ditangkap, dipukuli, dan jadi ocehan di internet? Ngapain buang-buang waktu bikin tags dan throw-up di jalanan kalau gak ada keinginan untuk membuat karya street art yang komersil?

“untuk diri gua sih, Kalo diri gua tuh pernah ada di dunia ini ya istilah nya punya sejarah pribadi lah” Pungkas SEND7