Kota Tangerang (21/05/17) – Kota Tangerang terkenal mempunyai keunikannya sendiri, mulai dari tempat wisata, makanan khas, serta lokasi yang dimana kota tangerang terbagi menjadi Kota Tangerang, Tangerang Kabupaten, dan Tangerang Selatan. Selain itu, Kota Tangerang pun masih terkenal dengan akulturasi budaya Tionghoa dan disini juga kalian masih bisa mengunjungi Klenteng-Klenteng yang umurnya sudah beberapa ratus abad lamanya, Terdapat tiga klenteng tertua di Kota Tangerang,  Boen Tek Bio, Boen Hay Bio dan Boen San Bio. Klenteng Boen San Bio  terletak di Jl. K.S Tubun, No.43, Pasar Baru, Kota Tangerang, Banten.

Processed with VSCO with c1 preset Foto : Fernando Saputra (21/05/17)

     Klenteng Boen San Bio secara umum diartikan sebagai “Kebajikan Setinggi Gunung”. Klenteng Boen San Bio berdiri diatas tanah seluas 4.650m2 dan didirikan pada tahun 1689.  Di halaman samping Klenteng ini memiliki halaman yang cukup luas yang bisamenampung ratusan orang bahkan lebih. Klenteng Boen San Bio didirikan oleh pedangang yang berasal dari Tiongkok yang bernama Lim Tau Koen. Tuan Rumah dari Klenteng Boen San Bio ini adalah Dewa Bumi (Hok Tek Tjeng Sien). Klenteng Boen San Bio sering mendapatkan penghargaan, salah satunya ada menegakkan 1150 butir telor dalam waktu hanya beberapa menit dan ada lagi rekor thian sin lo (tempat menaruh Hio/Dupa) terberat di Indonesia dengan berat yang mencapai 4888kg.

IMG_1761Foto : Fernando Saputra (21/05/17)

     Pada saat memasuki Klenteng ini, kalian akan di sambut oleh jejeran lilin lilin yang cukup banyak, lilin sendiri di budaya Tionghoa berarti cahaya penerangan batin. Terdapat juga pahgoda untuk pembakaran Kimcua yang berarti (kertas emas yang di dugunakan untuk penghormatan bagi dewa-dewa dan para leluhur). Dan yang tak kalah menarik, Atap dari bangunan Klenteng Boen San Bio dijaga oleh sepasang burung Fenghuang. Feng yang berarti jantan sedangkan Huang berarti betina. Burung Fenghuang selalu ditemukan berpasangan. Dan menurut kepercayaan Burung Fenghuang merupakan raja burung. Burung Fenghuang sering di artikan sebagai lambang dari keindahan dan keadilan. Burung Fenghuang menurut mitos tionghoa adalah burung yang tidak pernah mati, karena pada saat burung ini berusia tua, mereka akan membakar dirinya sendiri dan abu dari burung ini akan terlahir kembali sebagai burung fenghuang muda. Dan tidak beda dengan Klenteng-Klenteng yang lain, Di Boen San Bio juga kita akan disambut oleh sepasang singa penjaga .

IMG_1776 Foto : Fernando Saputra (21/05/17) – Tampak Sepasang Burung Fenghuang

     Urutan – urutan Altar di Klenteng Boen San Bio, Di Altar bagian depan terdapat altar Thien (Langit), terus dilanjutkan dengan altar Sam Kai Kong (Dewa Pelindung Manusia, Langit dan Bumi, 3 Kaisar Dunia), di ketiga ada Dewa Hok Tek Tjeng Shin (Dewa Bumi) selaku tuan rumah di Klenteng Boen San Bio, keempat ada Dewa Jie Lay Hud (Dewa Pelindung Umat Buddha), bersebelahan dengan Dewa Bie Lek Hud (Penerus Sang Buddha), kelima ada Dewi Kwan Im Hud Co ( Dewi Welas Asih), keenam ada Dewa Co Su Kong (Dewa Pelindung Perjalanan), Ketujuh ada Dewa Kwe Sheng Ong(Dewa Kepercayaan), Kedepalan Dewa Kwan Tek Kun(Dewa Budi Luhur), kesembilan Dewa Pat Sien Kwe Hay( kedeplan dewa yang mewakili berbagai sifar manusia), kesepuluh ada Altar untuk Nabi Lao Tze, Sang Buddha dan Nabi Khong Tze(Nabi dalam ajaran Khonghucu atau ajaran Konfusianisme), Kesebelas ada Altar dewa dewi, seterusnya ada Altar Sumber Rejeki(yang dipercayai dapat melancarkan rejeki) dan Pendopo Pecun (tempat penghormatan bagi orang yang berpengaruh).

Foto : Fernando Saputra (21/05/17) – Patung Dewi Kwan Im dan Pendopo Pecun

     Dan mulai memasuki ke halaman belakang, kita akan di perlihatkan dengan suasana yang suci, indah dan tenang. Yang dimana dihalaman belakang di dekorasi dengan sejumlah tanaman, hiasan-hiasan yang tak kalah indah, dan Patung-patung yang sangat indah bentuknya. Terdapat patung Dewi Kwam Im, yang tingginya mencapai 3 meter. Terdapat juga tempat yang bernama pendopo pecun. Pecun sendiri merupakan upacara tradisi umat Tionghoa yang diartikan atau dilambangkan sebagai penghormatan bagi leluhur yang telah meninggal karena tenggelam di sebuah sungai yang terletak di China. Pecun sendiri merupakan upaya pencarian yang dilakukan menggunakan perahu dayung. Perayaan ini pertama kali dilakukan di Kota Tangerang pada tahun 1910 dan sampai sekarang masih sering dilakukan di Sungai Cisadane.

Video : Fernando Saputra

Nama : Fernando Saputra

Nim : 1471501567

Kelas : SE