Kami belum kalah, meski kekecewaan terpatri di wajah. Hari keempat (28/4) aksi jadi pertanda konsistensi kami dalam berjuang. Karena kami paham betul bahwa ini bukanlah semata-mata perjuangan menuntut keadilan pemerintah untuk mengembalikan tempat tinggal dan lahan kami; kemenangan kami adalah kemenangan seluruh petani di Republik ini. Kemenangan kami adalah kemenangan keadilan. Kemenangan kami adalah kemenangan dari gigihnya perjuangan. Dan, kelak, kemenangan kami adalah kemenangan rakyat yang tertindas, kesukariaan rakyat yang pada akhirnya menolak untuk terus ditindas, kesukacitaan rakyat bahwa melawan adalah suatu hakikat hidup. Memang, kemenangan tidak datang hari itu. Bahkan, pagi hari ini, di saat jemariku menari meloncat dari satu tuts ke tuts lain, kemenangan terasa masih jauh.

Jumlah petani yang mengubur diri berkurang setengahnya, hanya lima orang. Tentu, kami maklum. Kelelahan melanda kami. Massa aksi pun juga berkurang.

Hari itu, pengawalan melonggar, hanya satu peleton. Polisi pun rupanya sibuk mempersiapkan diri untuk menyambut Hari Buruh Internasional, May Day, hari rayanya kaum tertindas.

Malamnya, kami juga mempersiapkan diri.

FormatFactoryDSC_0038FormatFactoryDSC_0049FormatFactoryDSC_0055FormatFactoryDSC_0078FormatFactoryDSC_0106