DSC_0980Silat ini tidak sengaja di temukan oleh seorang petani yg bernama Ki Maing (1817an). Waktu itu ia tidak sengaja memperhatikan gerakan monyet yg dipelihara oleh tetangganya yg bernama Nyi Nasare. Ia sangat tertarik dag gerakan monyet yang dpt mengindar ketika dipukul dg tongkat kayu. Bahkan monyet itu bisa merebut tongkat yg di pegang Ki Maing. Dari gerakan monyet itulah ia menciptakan jurus yang sangat sederhana.  Menurut Kong Nunung kata cingrik berasal dari kata jingkrak jingkrik. Yang  diilhami dari gerakan monyet. Silat cingkrik juga tidak ada kaitan keilmuan dengan si pitung. Sejarah cingkrik dikaitkan dengan cingkrik karena ada keturunan si  pitung yg belajar cingkrik. Dan mengusulkan menambahkan kata pitung untuk nama perguruan yang dibuat Kong Nunung yaitu jatayu tumbal pitung.

Ki Maing Kemudian mempunyai 3 murid yaitu Ki Ali, Ki Ajit dan Ki Syarie. Para murid ini melihat jurus yg diajarkan Ki Maing begitu sederhana, sehingga kemudian mereka menambah gerakan untuk memperkaya jurus tersebut. Ki ali mempunyai murid bernama Ki Sinan dan Ki Goning. Ki Ajit mempunyai murid bernama Ki ayat dan Uming. Ki Syarie mempunyai murid bernama Ki wahab.
Sedangkan Kong Nunung sendiri selain belajar kepada Ki Ali ia juga belajar cingkrik dari Ki Legod, Ki Ayat, Wahab, Uming, Hamdan dan Entong.

Cingkrik memiliki 12 jurus dan ditambah dengan sambut, namun dalam perkembangannya dari 12 jurus dan sambut yang ada, bisa saja berlainan tergantung dari guru mana kita belajar. Sejatinya setiap jurus dan gerakan Cingkrik adalah fleksibel berkembang, tidak kaku atau baku. Namun intinya tetap sama, gerakannya lincah, menyerang maupun bertahan, bertahan sekaligus menyerang dengan gesit dan lincah.

Sebagai contoh, seperti yang dikembangkan oleh Bang Wahab, jurus-jurus dan gerakannya menitik beratkan pada bagian atas, gerakannya seperti menotok, banyak mengandalkan serangan tangan dan jari dengan sasaran ulu hati, dada, leher dan muka. Sedangkan Bang Uming mengembangkannya dengan atas-bawah kombinasi beset-gedor, ambilan kaki (cingkrik) dan turun ke bawah dengan serangan empat penjuru. Begitupun dengan Ki Sinan dan Ki Goning, yang mengembangkan Cingkrik dengan kelebihannya masing-masing.

Ketidak seragaman atau perbedaan baik dalam jurus, gerak dan sambut di Cingkrik, dalam perkembangannya bukan merupakan masalah yang mendasar bagi orang-orang yang ingin mendalami Cingkrik, karena fleksibilitasnya yang terus berkembang tergantung kepada siapa (guru cingkrik) kita belajar/berguru. Namun yang paling penting adalah janganlah kita melupakan sejarah asal usul Cingkrik, yang dilahirkan oleh orang Rawa Belong, yaitu Ki Maing.