Bertepatan dengan Hari Buruh Internasional (1/5), energi kami terasa meningkat berkali lipat. Waktu itu jam tujuh pagi, kami sudah bergegas. Sudah sepantasnya kaum tertindas saling memahami satu sama lain, bukan? Hari itu wilayah Istana Negara steril dalam radius 100 meter, kami yang biasa mengadakan aksi di Taman Aspirasi mesti bergeser jauh ke depan Patung Kuda. Sempat pula massa bersitegang dengan personel kepolisian yang menghadang kami saat hendak memasuki Taman Aspirasi. Namun, kami mengalah, tentu saja, kami hanya ingin didengar bukan untuk menimbulkan kericuhan.

Sesampainya di depan Patung Kuda, kami tanpa disengaja membaur dengan massa buruh. Tepat di depan gerbang Monumen Nasional, kami memutuskan untuk menggelar aksi di sana. Massa aksi kami sebenarnya jauh lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya. Toh, hari itu dua puluh petani menguburkan dirinya, dua kali lipat dari jumlah terakhir. Tetapi, lautan massa buruh tetap saja terlalu banyak untuk tidak menutupi jalannya aksi kami.

Keberkahan ternyata berpihak kepada kami. Titik aksi kami saat itu tepat berada di mana mobil Outer Broadcast Van berbagai media diparkir. Aksi Kubur Diri pun jadi daya tarik tersendiri bagi awak media. Beberapa stasiun televisi melakukan siaran live di tempat kami. Sebuah keberpihakan takdir rasanya. Terpaan media yang begitu banyak meningkatkan semangat kami pula.

Sayangnya, fisik tak pernah berdusta. Mulai dari jam satu siang, satu persatu petani yang mengubur diri tumbang. Terik matahari yang begitu dahsyat menusuk tepat ke dahi tentu jadi alasan tersendiri. Hingga dua jam kemudian, setengahnya tumbang. Satu orang pingsan dan mesti dirawat sedikit lebih lama dibanding rekan-rekannya. Sungguh, hasil perjuangan memang mesti dibayar mahal. Jauh lebih mahal dibanding perkiraanku.

FormatFactoryDSC_0004FormatFactoryDSC_0012FormatFactoryDSC_0013FormatFactoryDSC_0029FormatFactoryDSC_0034