BOARDGAME – ULAR TANGGA

UntitledPermainan ular tangga terinspirasi atau meniru permainan dari India yaitu Vaikuntapali atau juga dikenal sebagai Leela atau Moksha Patam yang muncul pada abad ke-16. Di India permainan ini populer, karena permainan ini juga terkait dengan filosofi Hindhu yang berkaitan dengan karma, takdir, dan keinginan. Pada awalnya Vaikuntapali berfungsi sebagai alat untuk mengajarkan moralitas dan spiritualitas.

Dalam versi aslinya, gambar mendaki tangga dalam papan pemainan untuk mewakili atau menunjukkan para pemain terhadap nilai perbuatan baik dan pencerahan. Sementara gambar ular untuk mewakili kejahatan seperti nafsu, amarah, pencurian dan pembunuhan akan membawa kerugian spritual. Moralitas yang didapat dalam pembelajaran melalui permainan ini adalah bahwa seseorang akan dapat mencapai keselamatan (moksha) melalui berbuat baik, sedangkan dengan melakukan suatu kejahatan maka dosa akan diwariskan pada kehidupan selanjutnya yang berakibat akan menurunnya derajat kehidupan barunya. Dalam permainan ini, jumlah tangga lebih sedikit dari jumlah ular. Hal ini bertujuan sebagai pengingat bahwa jalan menuju kebaikan lebih sulit daripada jalan untuk berbuat dosa.

Untitled.png

Ketika India menjadi koloni Inggris, pada masa pemerintahan Ratu Victoria permainan ini dibawa ke Inggris pada akhir abad ke-19. Di negeri tersebut, permainan ini disebut Paramapada Sopanam yang berarti “The Ladder to Salvation” (tangga menuju keselamatan). Tetapi orang Inggris mengubah beberapa bagian dalam papan permainan ini. Mereka masih menggunakan permainan ini sebagai alat untuk menafsirkan dan mengajarkan akibat dari setiap perbuatan baik dan buruk. Papan dalam permainan ditutupi dengan gambar simbolik, bagian atas menampilkan dewa, malaikat, dan mahkluk yang berpenampilan megah, sedangkan sisa dari bagian papan lain ditutupi dengan gambar binatang, bunga dan orang.

Dalam versi aslinya, tingkat tertinggi dalam permainan adalah mencapai keadaan di nirwana, sementara dalam versi Barat hanya sekadar mencapai keberhasilan atau kemenangan. Kemudian Milton Bradley membawa permainan versi Barat ini ke Amerika pada tahun 1943 dengan dinamai sebagai Chutes and Ladders. Tentu saja tujuan permainan ini telah berubah menjadi komoditas bisnis.

Menurut Melsi (2015: 10) ular tangga adalah permainan papan untuk anak-anak yang dimainkan oleh 2 orang atau lebih. Papan permainan dibagi dalam kotak-kotak kecil dan di beberapa kotak digambar sejumlah “tangga” atau “ular” yang menghubungkan dengan kotak lainnya. Ratnaningsih (2014: 5) ular tangga adalah permainan yang menggunakan dadu untuk menentukan berapa langkah yang harus dijalani bidak. Permainan ini masuk dalam kategori “board game” atau permainan papan sejenis dengan permainan monopoli, halma, ludo, dan sebagainya.

Permainan ular tangga juga permainan yang dapat dimainkan oleh siswa. Yang mana setiap siswa memiliki bidak, dan dia mendapatkan kesempatan secara bergiliran untuk mengocok dadu. Setiap angka yang keluar dari mata dadu, maka siswa diperbolehkan melangkah maju sejumlah angka tersebut. Jika bidak mereka berada di dasar tangga maka bidak tersebut akan menaiki tangga dan berhenti di posisi berakhirnya tangga tersebut. Sebalikknya jika saat melangkah, bidak tersebut berhenti di ekor ular maka harus turun kebawah sampai di tempat kepala ular. Jadi mereka akan menggunakan proses matematika dalam permainan ini yaitu penjumlahan dan pengurangan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s