Nenek Penjual Opak di Pasar Kebayoran

Waktu itu saya sedang berjalan keliling pasar Kebayoran, saya melihat seorang nenek sedang duduk di emperan toko sambil menjajakan opak dagangannya. Saya tanya sudah berapa lama dia berjualan “3 tahun” jawabnya. Saya bertanya lagi, usia nenek sekarang berapa? Dia menjawab “65 tahun (sambil tertawa)”. Dalam hati saya berkata, usianya sudah tidak muda lagi, tapi dia masih semangat berjualan, semangat mencari nafkah. Karena dibandingkan dengan beberapa orang yang saya temui sebelumnya itu, masih muda tapi dia tidak mau berusaha bekerja, malah meminta-minta. Bukan bagaimana, tapi saya belajar dari nenek ini, yang umurnya sudah tidak muda lagi saja masih semangat, masa kita yang muda kalah semangat, dan saya lupa memperkenalkan siapa dia.

IMG20181225144710.jpg

Dia adalah nenek Suratmi, sehari-hari berjualan opak di emperan toko pasar Kebayoran, salah satu pasar tersemrawut di Jakarta. Memang, karena pasar ini adalah pasar yang tidak pernah tidur, kata orang bilang, aktifitas setiap saat selalu ada di pasar Kebayoran. Pasar adalah tempat bertemunya penjual dan pembeli, transaksi negosiasipun pasti ada disini. Termasuk dengan nenek Suratmi, berjualan dari pukul 10:00 pagi sampai dengan 17:00 sudah terbiasa baginya. Opak yang dijual dengan harga 5 per kantongnya, masih saja ditawar oleh pembeli. Modal saja tidak menutupi, jika ditawar-tawar lagi, tapi nenek Suratmi tetap sabar “yaa namanya juga orang beli, harus kita layani”.

IMG20181225144622.jpg

 

Sehari-hari nenek Suratmi berjualan ditemani oleh cucunya yang berusia 5 tahun, di tempatnya berjualan orang-orang sudah akrab dengannya, bahkan dengan cucunya. Biasanya ia memperoleh dagangan opak mentah dari “orang kulon” katanya, yang biasanya diantar oleh orang. “Dulu harganya masih murah 4000, sekarang naik jadi 5000 dan sekarang 7000, kalo naik lagi nggak tau jualan lagi atau gimana”

Nenek Suratmi tinggal di daerah Kebayoran, “di belakang masjid, yang tirai ijo” katanya. Dia tinggal bersama satu orang anaknya, menantu, dan dua cucunya, kondisi rumah masih ngontrak, dengan modal dagang 150 ribu, ia bisa mendapatkan perharinya 200 ribu, tetapi dipotong dengan modal 150 ribu, ia hanya memperoleh penghasilan 50 ribu perhari, “hanya cukup untuk makan” ujarnya.
#pasartradisional #jurol #belajarcerita @belajarcerita

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.