Di Balik Liputan Tanggul Kalibaru

Pantai Kalibaru. Tempat yang masih sangat asing bagi saya. Karena diberi tugas oleh salah satu dosen saya, akhirnya saya tau dimana lokasi pantai kalibaru. Saya ditugaskan untuk membuat berita dengan tema “Hal / Dampak positif pembangunan tanggul pantai di Jakarta”. Saya dan ketiga teman saya pun memilih untuk ke Kalibaru. Setelah berunding perihal hal apa saja yang akan kami lakukan disana dan menggunakan transportasi apa saja untuk menuju kesana, akhirnya kami pun sepakat untuk berangkat menggunakan KRL Commuter Line.

Di hari pertama saya ke Kalibaru, saya berangkat pukul 10 pagi dan sampai disana sekitar jam setengah 12 siang. Sampai disana saya langsung masuk kedalam area tanggul kalibaru untuk melihat kondisi area tanggul kalibaru. Cuaca disana sangat panas jika kita datang pada siang hari. Setelah dari tanggul kalibaru saya lanjut ke daerah pemukiman warga untuk mencari narasumber yang bisa diwawancarai. Pemukiman warga tersebut cukup padat dan ramai. Saat mencari warga untuk di wawancarai banyak yang menolak untuk di wawancarai hingga saya menemukan salah satu warga bernama ibu hana yang bersedia untuk diwawancarai.

Di minggu depannya saya kembali lagi ke kalibaru karena ternyata hasil wawancara saya yang pertama kurang bagus. Di hari itu saya berangkat dari malam hari dan menunggu di Mcdonalds dekat sana. Saat pukul 5 pagi saya bersiap untuk berangkat ke Kalibaru menggunakan ojek online dan sampai disana hampir pukul 6 pagi. Saat saya sampai disana saya pun langsung ke area tanggul untuk mengambil stockshoot kegiatan disana saat dipagi hari. Setelah itu saya kerumah ibu hana untuk diwawancarai ulang tapi ternyata ibu hana sedang tidak bisa diwawancarai dan akhirnya saya pun berencana mencari narasumber lain untuk diwawancarai. saat itu saya bertemu dengan salah satu warga bernama ibu Ita yang bersedia untuk diwawancarai, saya pun diajak untuk melakukan wawancara di rumahnya.

Di minggu ketiga saya dan ketiga teman saya  kembali ke Kalibaru karena ke kurangan stockshoot. Saat itu saya berangkat pukul 8 pagi. Namun saat saya sampai disana, saya diberitau oleh salah satu warga jika sekarang di area tanggul ada anjing yang di lepas liarkan dan pernah ada beberapa warga yang digigit oleh anjing tersebut. Karena saya takut anjing saya pun ragu untuk masuk kedalam area tanggul. Karena tidak ingin membuang-buang waktu saya pun menemani salah satu teman saya untuk melakukan wawancara lagi. Saat sedang melakukan wawancara, narasumber tersebut menceritakan tentang anjing yang di lepas di area tanggul tersebut. Hingga akhirnya narasumber tersebut menawarkan untuk mengantarkan untuk masuk ke tanggul lewat pintu lain yang lebih kecil. Saat sampai pintu tanggul tersebut ternyata sedang ada pekerja yang sedang membangun tanggul jadi saya tidak diperbolehkan masuk kedalam. Saya pun berniat untuk mengambil gambar dari pintu tersebut saja. Saat saya sedang men-setting kamera saya, saya pun dihampiri oleh salah satu pekerja disana, saya di tanya apakah saya dari wartawan atau bukan dan saya di larang untuk mengambil gambar tanpa seizin humas disana. Karena saya tidak ingin merasa sia-sia karena saya sudah jauh-jauh datang kesana, saya pun mengambil gambar secara diam-diam menggunakan handphone dan ditutupi oleh tubuh salah satu teman saya. Saat saya sudah mengambil beberapa gambar ternyata saya ketahuan sedang mengambil gambar secara diam-diam dan saya pun langsung kembali dan menghampiri teman-teman saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.