SHELLFISH TRASH ON THE “KAMAL ESTUARY” DOCK

Pengalaman saya di Muara Kamal tidak begitu banyak, jadi yang akan saya ceritakan hanya beberapa bagian saja. Selama peliputan saya di Muara Kamal, sebenarnya saya sedikit malas dikarena cuacanya sangat panas hari itu. Kenapa saya tidak berangkat dan mengerjakan liputan saat subuh, itu dikarena saya harus mengerjakan beberapa tugas di malam hari dan terkadang itu dikerjakan sampai dengan jam 2 pagi dan membuat saya selalu bangun terlambat. Oh iya, ngomong-ngomong  saya mengambil liputan mengenai Sampah Kerang di Dermaga Muara Kamal, karena menurut saya pribadi sampah kerang di sana sudah sangat menumpuk dan menyebabkan bau yang tidak sedap mengakibatkan gangguan terhadap warga sekitar dan juga pengunjung. Oleh karena itu saya sangat tertarik dengan tema tersebut dan ingin menguak cerita mengapa sampah kerang masih banyak berserakan di daerah sana.

Dermaga Muara Kamal

Ketika hari yang sudah ditentukan akhirnya saya berangkat dan bertemu dengan narasumber, yakni seorang kepala nelayan di sekitaran dermaga Muara Kamal bernama Suhendra atau biasa dipanggil dengan sebutan bang Hendra. Beliau menceritakan alasan dibalik sampah kerang yang masih berserakan di sekitaran dermaga. Menurut beliau ada berbagai dampak, baik itu positif maupun dampak negatif akibat sampah kerang tersebut. Dampak positif dari sampah kerang tersebut yakni dapat dijadikan urukan untuk peninggian dataran pada rumah-rumah yang masih terendam air akibat banjir rob dan selain itu sampah kerang tersebut dapat juga dijadikan bahan untuk pembuatan keramik. Disisi lain, dampak negatif dari sampah kerang ini adalah menimbulkan bau yang tidak sedap yang akhirnya membuat orang di sekitar tidak nyaman mengakibatkan terjadinya pencemaran udara dan mengakibatkan udara yang tidak sehat untuk dikonsumsi  atau dihirup. Terjadi juga pencemaran pada air bersih yang berada di sekitaran dermaga Muara Kamal ini. Selain menanyakan dampak positif dan negatifnya, bang Hendra juga menceritakan beberapa cerita mengenai sampah kerang ini. Salah satunya adalah cerita perdebatan antara para nelayan dengan pemerintah setempat, mengenai perelokasian tempat kerja pengupasan kerang.

Sampah Yang Masih Berserakan di Dermaga Muara Kamal

Setelah melakukan peliputan ini banyak hal yang bisa saya pelajari, terutama mengenai pekerjaan-pekerjaan yang ada tetapi tidak terekspos. Seperti pengupasan kerang dan penggunaan sampah kerang sebagai urukan tanah bagi beberapa rumah yang berada dekat dengan laut dan juga digunakan sebagai bahan keramik. Video hasil peliputan ini langsung saya bawa kerumah dan saya sunting sedemikian rupa menjadi sebuah documenter pendek. Sekian pengalaman yang bisa saya ceritakan mengenai peliputan di Muara Kamal mengenai sampah kulit kerang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.