Mata Kuliah Yang Bikin Darah Tinggi

Pada semester 5 ini bisa dibilang semester yang sangat menguras tenaga sekali karena kebanyakan matkulnya itu praktek lapangan semua, namun ada satu matkul yang bisa dibilang membuat saya sangat kesal karena karena tugasnya yang dibilang sangat Complicated awalnya si saya kira hanya tugas praktek lapangan biasa namun lama kelamaan jadi Complicated sekali. Nama Mata Kuliah tersebut ialah Jurnalistik Online yang di ampu oleh Budi Afrian a.k.a Buyung, jujur First Impression saya kepada beliau sepertinya orangnya santai tidak terlalu formal sekali ketika bicara tidak seperti dosen-dosen lain dan tugas-tugas yang dia beri sepertinya tidak terlalu rumit karena dari tugas pertama sampai tugas pertama sampai tugas empat jujur masih mudah untuk dikerjakan menurut saya.

Namun setelah memasuki tugas lima sampai tugas sepuluh ini jujur saja First Impression baik saya terhadap beliau langsung hilang ketika sudah memasuki tugas lima ini, awalnya saya mengira tugas pasti akan sama seperti sebelumnya namun prasangka baik saya berubah sepenuhnya pada saat dia memberikan tugas lima dan tugas enam tentang membuat Perencanaan Liputan (Reporting Plan) disaat kondisi ini saya masih biasa saja saya hanya berfikir “udah lah ngerjain aja dari pada ngga dapet nilai, kan udah bayar mahal ya kali dapet C ogah la” fikir saya dalam hati. Jadinya saya membuat dua perencanan liputan yang di suruh oleh beliau, nah setelah mengerjakan tugas tersebut saya harus pergi ke Baduy selama tiga hari dua malam untuk menyelesaikan UAS Komunikasi Antar Budaya, namun ketika baru sampai penginapan Mas Buyung mengirimkan tugas baru lagi via WA (WhatsApp) isi tugas tersebut berisi nama-nama yang dua Reporting Plan nya ada yang di accept satu ada yang dua-duanya di accept bahkan ada yang dua-duanya tidak di accept sama sekali. Kebetulan Reporting Plan saya kerjakan hanya satu yang diterima yang berjudul “Alasan Warga Pejaten Timur Betahan dari Luapan Sungai Ciliwung”.

Beliau juga menyampaikan bagi yang Reporting Plan nya hanya satu yang diterima membuat Reporting Plan baru dikumpulkan pada hari selasa dan tugas Reporting Plan yang sudah di accept itu mulai di buat liputannya dikumpulkan hari kamis. Disitu saya mulai pusing membagi waktunya masalahnya saya masih di Baduy bisa balik ke rumah itu hari minggu jadi bingung mau ngerjain yang mana. Akhirnya saya memutuskan untuk melakukan observasi untuk Reporting Plan baru yang ingin saya buat setelah pulang dari Baduy lalu saya melakukan liputannya (mengambil Stock Shot, wawancara dengan Narasumber yang saya temui disana) di hari Rabu karena kebetulan hari Rabu itu tidak ada Mata Kuliah jadi saya bisa liputan dari Pagi karena sebelum saya berangkat ke Baduy saya sudah melakukan observasi di Pejaten Timur Jakarta Selatan kebetulan sekali saya langsung bertemu dengan Bu RT, disitu kami pun mulai berbincang tentang permasalahan yang ada di sana tidak lama setelah perbincangan tersebut saya langsung izin meminta kontak Pak RT agar bisa meluangkan waktunya untuk di wawancarai dan Bu RT pun langsung memberikan kontaknya kepada saya.

Setelah Reporting Plan yang baru saya buat itu di accept sama Mas Buyung, beliau punmemberi tugas baru yang dimana saya harus membuat liputan berita dari Reporting Plan yang sudah saya buat. Tapi karena saya tau ini akan bentrok antara liputan satu dengan yang lainnya saya pun mengantisipasinya dengan cara disaat saya membuat Reporting Plan yang baru ini saya langsung melakukan liputannya dimulai dari wawancara Ketua RT Pak Samsudin mengenai Dampak Positif dari Pembangunan Tanggul bagi Pantai Masyarakat Kamal Muara khususnya RT 007 RW 004 lalu mengambil StockShot yang saya butuhkan agar tidak kembali lagi dua kali karena liputan saya ini berada di Muara Kamal Penjaringan Jakarta Utara Mengenai “Dampak Positif dari Pemabangunan Tanggul Pantai di Kamal Muara Khususnya RT 007 RW 004”, saya melakukan itu agar saya bisa dengan tenang melakukan liputan lainnya.

Proses pengeboran untuk memasang Tanggul Beton
Pak Samsudin Selaku Ketua RT 007 RW 004
Terpasangnya Tanggul Beton
Tanggul Pantai yang sudah Jadi

Setelah melakukan liputan di Muara Kamal saya pun langsung melakukan liputan yang berada Pejaten Timur Jakarta Selatan mengenai “Alasan Warga Pejaten Timur Bertahan dari Luapan Sungai Ciliwung” saya pun langsung menghubungi Contact Person yang sudah saya dapat sebelumnya dari Bu RT yaitu Pak RT agar bisa di wawancara sambal menunggu saya pun berkekliling untuk mengambil beberapa Stock Shot yang saya inginkan, namun Pak RT pun tidak bisa karena masih sibuk dengan pekerjaannya beliau pun langsung menyuruh saya untuk mewawancarai Staff-Staff RT yang bernama Pak Sunarjo dan Pak Surury. Ketika sudah di beri dua pilihan tersebut saya langsung memilih Pak Sunarjo saja untuk di wawancara karena hari yang sudah semakin sore, saya pun langsung bertanya kepada warga sekitar dimana rumah Pak Sunarjo dan mereka pun langsung memberti tahu letak spesifik rumah Pak Sunarjo.

Pak Sunarjo Selaku Staff RT 005 RW 005

Setelah sampai di depan rumah Pak Sunarjo saya pun mengucap salam di rumahnya agar ada yang membukan pintu, setelah saya mengucap salam ada seseorang yang keluar dari rumahnya saya kira itu neneknya Pak Sunarjo tetapi  ternyata itu adalah istrinya, beliau pun dengan baik langsung membukakan pintu rumahnya lalu saya pun bertanya apakah Pak Sunarjo ada dirumah atau tidak. Istrinya pun langsung menjawab ada sambal memanggil Pak Sunarjo saya pun menunggu tak lama Pak Sunarjo pun keluar saya pun langsung berjabat tangan memperkenalkan diri dan langsung menjelaskan maksud dan tujuan saya datang kesana, alhamudlillahnya Pak Sunarjo pun mau meluangkan waktunya untuk diwawancara saya pun langsung melakukan sesi wawancara dengan Pak Sunarjo sesuai dengan judul berita yang ingin saya angkat, setelah berbincang cukup lama saya pun pamit pulang karena sudah menjelang malam.

Seiring berjalannya waktu revisi demi revisi saya yang harus kembali lagi ke dua tempat yang berbeda karena Shot yang diambil masih tidak stabil karena tidak menggunakan Tripod ketika wawancara dengan Narasumber ditambah lagi saya semakin pusing karena Deathlie yang semakin menumpuk, lalu ada satu kondisi yang dimana membuat saya sangat marah sekali sampai bahasa Suaka Marga Satwa keluar semua dimana itu dimana ketika saya bertanya dengan beliau mengenai tugas yang sudah saya kerjakan dengan entengnya beliau berkata “Cerita yang di pejaten ngga masuk sama konteks pembahasan mending liputan baru aja ya di Muara Baru tentang Masjid yang pernah tenggelem lu cari mantan marbot atau orang yang pernah Sholat di sana suruh mereka bercerita tentang kondisi dulunya seperti apa” astaga disitu saya langsung marah soalnya enak banget beliau ngomongnya padahal udah keluar duit banyak sampe ngasih kue segala buat tanda terima kasih di tempat liputan pertama saya yang berjudul “Alasan Warga Pejaten Timur Bertahan dari Luapan Sungai Ciliwung” yang berada di Pejaten Timur Jakarta Selatan, yah mau tidak mau saya harus memenuhi permintaan beliau karena jika tidak menuruti nanti nilai saya bisa saja di kurangi atau mungkin tidak diberi nilai, beliau pun sempat menambahkan “Kalau bisa berangkat dari pagi sekitar jam tiga saja sambil menunggu matahari terbit bisa sholat dulu disana setelah sholat baru bisa mengambil Shot suasana paginya”.

Saya pun langsung menhubungi om saya untuk menemani saya ke Muara Baru karena katanya di tempat tersebut itu kalo pagi rawan sekali dengan kejahatan seperti Begal dan kawan-kawannya, kami pun langsung berangkat dari pukul 03.00 WIB di Rabu Pagi awalnya saya kira ini akan menjadi perjalanan yang sangat lama namun perjalanan tersebut hanya membutuhkan waktu setengah jam saja saya dan om saya tiba pada pukul 03.30 WIB. Benar-benar diluar Ekspetasi saya ketika melihat kondisi tempat tersebut karena begitu saya dan om saya sampai saya melihat tanggul yang bisa dibilang lumayan tinggi nah masjidnya itu berada di belakan tanggul tinggi tersebut, agar bisa meilhatnya saya mencoba naik lewat tangga yang sudah ada ketika saya sudah berada di atas saya melihat kondisi Masjid yang sudah rusak di kelilingi oleh air karena kebetulan matahari masih belum muncul saya mencoba mengambil gambarnya dengan menggunakan Flash di kamera saya.

Huri Penjual Gorengan Sekaligus Warga Lama Saat Masjid Belum Tenggelam
Hasil Gambar yang diambil saat Matahari belum Terbit

Tapi saya merasa ada yang aneh dengan hasil gambar saya padahal sebelum pergi saya sudah membersih kan lensa kamera saya begitu saya lihat hasilnya di atas Masjid tersebut terdapat beberapa pola lingkaran kecil awalnya si saya menghiraukan pola itu, karena matahari masih belum muncul juga om saya menyarankan agar saya lebih baik cari makanan sambil nanya-nanya orang sekitar siapa tau masih ada warga lama yang bisa di wawancara saya pun menuruti saran om saya. Akhirnya kami pun mencari penjual gorengan karena kami memang belum sempat sarapan, setelah sampai di penjual gorengan  sambal membeli gorengannya kami pun bertanya tentang kondisi dulu Masjid yang pernah tenggelam kebetulan sekali penjual yang sedang kita tanya itu masih warga lama yang pernah Sholat di Masjid yang pernah tenggelam namanya Huri, akhirnya saya meminta izin untuk mewawancarai beliau, dan beliau pun mau di wawancara saya mulai sesi wawancara pada 04.00 WIB sampai 04.30 WIB beliau pun menjelaskan dari kondisi awal yang masih ramai di Masjid itu sampai kondisi dimana Tanggul yang dekat Masjid tersebut sudah tidak bisa lagi menahan arus air yang sangat banyak sampai membuat warga pindah dantidak dihuni lagi. Setelah saya selesai melakukan wawancara saya pun langsung kembali ke tanggul lagi akhirnya matahari pun terbit saya langsung mengambil stockshot yang saya butuhkan untuk bahan liputan saya sebanyak-banyaknya, setelah mendapat stockshot yang saya butuhkan saya dan om saya pun pulang kerumah.

Suasana Pagi Hari
Suasana Masjid Yang Sudah Terendam Air
Suasana Tanggul Yang Sudah Hancur Akibat Arus Air Yang Sangat Deras

Saya langsung menyerahkan data-data yang sudah saya peroleh ke Mas Buyung, sambil menunggu proses pengCopyan data saya pun bertanya pada Mas Buyung mengenai pola lingkaran kecil dari gambar saya belau pun menjelaskan bahwa pola lingkaran kecil itu si katanya merupakan penunggu atau makhluk-makhluk yang tak kesat mata yang berada di Masjid tersebut, saya pun berfikir “kenapa Mas Buy Nyuruh saya kesitu padahal kan bahaya”. Dari tugas-tugas yang sudah diberikan akhirnya saya mengerti kenapa Mas Buyung melakukan hal ini karena ingin kita menjadi orang-orang yang tahan banting ketika berkerja di Stasiun TV atau dimana pun itu, makanya beliau selalu nge Push kita dengan tugasnya yang sangat Complicated dan Deathline yang sangat mepet yah walaupun ada rasa marah juga tapi saya mendapat nilai positif yang bisa di ambil dari situ jika saya tidak diberi tugas liputan ke mana-mana mungkin sampai sekarang saya ngga bakal tau daerah-daerah tersebut, Makasih ya Mas sudah memberikan pengalaman yang sangat berguna bagi saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.