MUARA KAMAL LAGI DAN LAGI

Di semsester lima ini yg saya kira mata kuliah yg akan sulit dalam proses pengerjaan itu dokumenter, tapi ternyata bukan dokumenter tetapi jurnalistik online. Disini saya akan sedikit bercerita tentang proses saya dalam mengerjakan tugas liputan.

            Pada saat tugas liputan di muara kamal yang lama kelamaan bikin kesal karena disini saya harus bolak balik ke muara kamal yang lumayan jauh. Di muara kamal ini saya harus membuat liputan tentang proyek tanggul pantai di muara kamal. Selain itu saya melihat lingkungan yang ada di muara kamal. Setiap siang air laut mulai pasang dan air laut masuk ke rumah – rumah warga.  Saya heran Anak – anak yang bermain air laut pasang di lingkungan rumahnya tidak merasakan gatal – gatal.  Dilingkungan rumahnya banyak sekali sampah yang berserakan di saluran airnya.

            Selain itu saya bertemu dengan pekerja proyek tanggul pantai. Dia menceritakan bagaimana proses pengerjaan proyek dan bersosialisasi dengan warga disana untuk membicarakan dampak yang akan dirasakan langsung oleh warga muara kamal. Selain itu nelayan agak kesusahan dengan adanya bongkar muat, karena tanggul yang dibangun agak tinggi dan nelayan akhirnya membuat tangga diantara tanggul tersebut untuk sedikit memudahkannya bongkar muat. Dalam pembuatan tanggul ada plus minus nya bagi warga dan nelayan.

            Selain itu dalam proses liputan ada kendala dalam suara. Karena muara kamal yang dekat pinggir pantai ada angin yang kencang pastinya membuat noise dalam video. Selain itu saat liputan anginnya terlalu kencang dan kebutalan muara kamal berdekatan dengan pulau buatan yaitu pulau reklamasi. Pada saat angin kencang pulau reklamasi yang masih tumpukan tanah dan pasir, membuat udara yang ada di muara kamal berkabut karna pasir – yang ada di pulau reklamasi terbawa angin. Menjadi tontonan warga dan para pekerja karena udaranya berpasir dan suasananya seperti mendung.

            Masih di waktu yang sama ada kejadian yang membuat saya malu karena saya jatuh disela – sela kayu yang dibawahnya air laut langsung. Untungnya saya tidak jatuh kelaut hanya satu kaki saya saja yang jeblos. Orang – orang langsung menanyakan kameranya “kameranga gapapa kan neng?” bukannya keadaan orangnya yang ditanyain. Saat saya balik lagi ke muara kamal ada orang yang menanyakan “eh neng kameranya ga rusak kan?” padahal kejadian itu sudah cukup lama dan membuat saya malu.

            Orang – orang di sana lama kelamaan mulai mengenal kita karena sudah sering sekali kita mengunjungi muara kamal untuk tugas liputan. Ada juga orang yang menawari kita untuk menyebrang pulau. Punya niatan juga kita untuk menyebrang tetapi kita sudah terlalu siang untuk ke sana, karna pulang dari pulaunya takut terlalu sore akhirnya kita membatalkan untuk menyebrang pulau.           

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.