Bapak dan Bukit Kota Batu

Masih melekat dengan erat kenanganku bersama Bapak ketika Bapak mengajakku duduk berdua di dataran tinggi Kota Batu suatu malam. Hari itu semuanya berlalu seperti biasa, tidak ada sesuatu yang berarti terjadi sampai pada saat Bapak mengajakku keluar untuk sekedar berpergian mengelilingi Kota Batu. Hanya aku, putri sulungnya yang ia ajak pergi. Ibu dan keempat adikku sudah sama-sama terlelap dalam bunga tidurnya.

Rasanya aneh bagiku, pergi berdua bersama Bapak di malam hari dengan embel-embel sekedar untuk mengelilingi kota di dewasaku ini begitu asing rasanya. Biasanya aku dan Bapak hanya pergi berdua untuk membeli dua kotak martabak telur dan keju di pinggir jalan belakang komplek tempat kami tinggal.

Seperti malam-malam yang lainnya, Kota Batu diselimuti oleh dingin udaranya yang ikut memelukku dalam setiap lekuk semilirnya. Tidak lupa kubawa cardigan tebal berwarna biru kesayanganku pergi bersama aku dan Bapak malam itu. Lain halnya dengan malam yang biasa menyambutku dengan dinginnya yang menusuk tulang, kala itu justru Bapak melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan kepadaku, mengajakku pergi ke salah satu bukit di Kota Batu hanya untuk sekedar berbincang mengenai segala hal yang berputar dalam kehidupan.

Malam itu aku dan Bapak duduk bersebelahan di atas rerumputan yang berembun. Aku bahkan masih bisa mencium bau segar rumput-rumput yang masih setengah basah di guyur hujan, sedang netraku terfokus pada lampu-lampur kota yang bersinar alih-alih bintang yang bertaburan di atas permukaan planet biru ini. Malam itu adalah kali pertama sekaligus kali terakhirku menghabiskan waktu berharga bersama Bapak.

Hari ini Kota Batu dan sekitarnya diguyur hujan deras. Bapak tahu betul, Bapak tahu dengan sangat baik betapa aku mencintai hujan. Betapa aku mengapresiasi hadirnya hujan sebagai fenomena alam terbaik yang pernah digenggam langit. Namun tidak hari ini, Pak. Izinkan aku membenci hujan hari ini karena hujan kembali mengoyak perasaanku dengan siksaan rindu yang tak berujung atas kehadiranmu. Hari ini aku kembali, Pak.

Aku kembali duduk disini, di tempat dimana kita menghabiskan hampir satu malam duduk berbincang ditemani dua gelas kopi susu hangat kesukaan Bapak.

“Nak, kamu tahu, di hidup ini, kita tidak bisa memaksa orang untuk tinggal, kita juga tidak bisa memaksa orang untuk pergi. Setiap orang ada masanya, setiap masa juga ada orangnya. Bapak selalu ingat, dulu waktu kecil kamu suka sekali menonton film Barbie. Dalam film-film itu hampir selalu ada adegan dimana penghuni kastil itu ada yang keluar dan justru orang luarlah yang menggantikan kepergian orang yang telah pergi tersebut. Nah, kita dan hidup ini bagaikan kastil dan pemiliknya. Suatu hari nanti, penghuni yang kini tinggal di dalam kastil atau kehidupan kita akan pergi, dan mungkin beberapa dari mereka yang kini masih ada di luar kastilmu nanti akan ada yang masuk ke dalamnya. Maka dari itu, Bapak harap kamu akan selalu siap jika sewaktu-waktu kamu harus merayakan kehilangan dan menerima penghuni baru yang datang hanya untuk sekedar berkunjung atau bahkan menetap hingga kemudian hari.”

“Perkara menyambut dan melepaskan dalam hidup itu adalah sebuah hal yang pasti terjadi dan sikulusnya akan terus berulang. Entah dengan manusia, masalah, luka, atau apapun itu. Jadi, Bapak berpesan, hidupilah hidupmu dengan baik ya, Nak? Jaga mereka yang masih ada di dalam hidupmu dengan sebaik-baiknya. Ikhlaskan mereka yang sudah tidak ada lagi disini bersamamu. Datang dan perginya seseorang adalah hadiah yang semesta berikan dan mau tidak mau juga kamu harus menerimanya. Berikanlah segala hal yang terbaik kepada mereka yang terkasih selagi mereka masih ada di sampingmu. Karena kepergian mereka adalah salah satu dari jutaan hal di dunia yang kamu tidak akan bisa tebak kapan terjadinya. Jangan sia-siakan mereka apalagi mengecewakannya. Bahagiakan lah dirimu dan juga orang-orang di sekitarmu.”

Apa Bapak ingat pesan Bapak yang satu ini? Pesan Bapak masih hidup disini, di tempat ini, dan juga di hidupku. Dan kini aku kembali, Pak. Aku kembali merayakan kehilangan Bapak untuk kesekian kalinya dengan ditemani rekaman kenangan sekali seumur hidup kita yang tersimpan abadi di tempat ini.

Pak, sulungmu ini rindu. Sulungmu ini masih menaruh harap besar akan selamanya yang aku kira mampu kita genggam bersama namun berakhir tak sampai.

Bapak, aku sering bercerita kepada Tuhan bahwa aku akan selamanya bangga memiliki seorang ayah sepertimu. Semoga Tuhan menyampaikan pesan-pesanku untukmu.

Terakhir, selamat beristirahat di keabadian dengan tenang bersama bintang-bintang cantik di angkasa, Pak. Semoga kita bisa bertemu lagi nanti, sebagai ayah dan anak perempuannya yang sempat saling merindukan namun kembali dipersatukan di Surga.

Bahagia terus disana ya, Pak. Selagi menunggu aku pulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.