[Review Film] Stip & Pensil

Hai temen-temen, saya ingin mengapresiasi Film Stip dan Pensil bertema drama komedi yang dirilis pada tahun 2017. Durasi film ini 1 jam 30 menit, ditangani oleh Sutradara Ardy Octaviand, Produser Manoj Punjabi, dan Penulis Skenario Joko Anwar. Latar belakang dalam film Stip dan Pensil terdapat 4 orang remaja sebagai pemeran utama, yaitu Ernest Prakasa (Toni), Tatjana Saphira (Bubu), Indah Permatasari (Saras), dan Ardit Erwandha (Aghi). Remaja ini dari kalangan berada, dan bersekolah di tempat yang bisa dibilang elit untuk para kalangan berada. Film ini menceritakan tentang anak yang kurang dukungan pendidikan dari orang tua, serta masyarakat yang tidak memperbolehkan adanya sekolah di lingkungan tersebut. Remaja ini diberikan tugas essay oleh guru di sekolah. Mereka mempunyai tekad ingin mendirikan sebuah sekolah darurat di tengah pemukiman kumuh, untuk meyelesaikan tugas essaynya. Perjuangan yang penuh lika-liku, 4 remaja ini berusaha menjelaskan kepada masyarakat tersebut, dan dibantu dengan Iqbal Sinchan (Ucok) anak yang tinggal di pemukiman kumuh itu. Pada akhirnya, masyarakat pemukiman menerima adanya sekolah setelah dijelaskan apa itu pentingnya pendidikan untuk anak. Selain itu, parodi yang disajikan membuat para penonton terbawa suasana canda tawa. Saya merekomendasikan tontonan ini untuk para orang tua dan anak.

Pendapat saya dari film ini, yang perlu ditingkatkan rasa kesadaran masyarakat terhadap pendidikan dan sosial harus diterapkan sejak dini, entah itu dari kalangan berada ataupun tidak sebab pendidikan itu penting. Saya melihat film ini kasihan terhadap anak-anaknya, seharusnya anak-anak di usia mereka merasakan belajar dan bermain dengan teman. Tetapi, mereka harus ikut mencari rezeki untuk membantu orang tua. Sebaiknya, orang tua lebih peduli dan dapat mengajarkan anaknya sedikit ilmu yang baik dan benar, walaupun orang tua tersebut tidak sekolah. 4 remaja ini sebenarnya membantu keadaan lingkungan pemukiman, namun sangat disayangkan masyarakat pemukiman tidak menerima adanya sekolah darurat.

Dalam proses pengambilan gambar film Stip dan Pensil mempunyai keunikan, yaitu sebagian besar film ini dilakukan di lokasi pembuangan sampah bawah tol di kawasan Pluit dan Kuningan. Editing yang diberikan pada film ini terlihat sinematik. Pemeran yang memerankan film ini pun ikut merasakan adaptasi dengan lingkungan tersebut. Saya suka film ini, karena berakhir bahagia. Anak-anak yang tinggal di pemukiman tersebut dapat merasakan apa itu sekolah, serta mendapatkan pelajaran membaca, berhitung, dan berbagai macam pengetahuan lainnya.

Saya memberikan rating pada film ini 9/10. Sisi positif yang saya ambil banyak mengandung pesan moral, yaitu kepedulian seseorang, kejujuran seseorang, loyalitas dan kerja sama, serta kegigihan dan sopan santun. Selain itu, bahwa kita harus peduli terhadap sesama tanpa adanya perbedaan. Saya merasa terbawa suasana saat menonton, dan bersyukur hingga saat ini masih bisa bersekolah. Film ini bisa menjadi sarana edukasi dan komedi cerdas untuk siapa saja yang menonton.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.