[Review Film] A Taxi Driver

Banyak hal yang saya dapat dari film A Taxi Driver, cerita ini merupakan sejarah dari politik di tahun 1980 dengan latar pemberontakan di Gwangju, ibukota Provinsi Jeolla. Banyak sekali hal positif yang bisa saya ambil dari film ini, perjuangan seorang supir taksi Kim Man Seob dan jurnalis asal Jerman Jürgen Hinzpeter serta semua masyarakat Gwangju yang meminta keadilan.

Awalnya Kim Man Seob hanya ingin mendapat bayaran yang besar untuk bayar sewa rumahnya dengan cara licik yaitu mengambil penumpang supir taksi lainnya lalu langsung mengantarkan Peter ke Gwangju tanpa mengetahui apa resiko yang akan ia hadapi. Tetapi dari hal itu Kim Man Seob menjadi salah satu pahlawan pada peristiwa Pemberontakan Gwangju 1980.

Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya dari film ini yaitu semua orang bisa menjadi pahlawan tanpa harus memiliki gelar yang tinggi. Film yang diangkat dari kisah nyata ini benar-benar menampilkan bahwa semua orang bisa menjadi pahlawan hanya karena rasa ingin keadilan dan kemanusiaan.

Pemberontakan Gwangju terjadi pada 18-27 Mei 1980. Presiden Korea Selatan selama 18 tahun yaitu Park Chung Hee tewas dibunuh lalu kekuasaan diambil alih oleh Chun Doo Hwan Jenderal militer, mahasiswa langsung melakukan unjuk rasa tetapi tentara memukuli bahkan membunuh mahasiswa dan akhirnya warga turun ke jalan untuk ikut menuntut demokrasi.

Film ini tidak hanya menceritakan tentang kesedihan tetapi juga ada “selingan” humor didalamnya. Seperti tingkah Kim Man Seob yang konyol dan suka bernyanyi saat sedang menyetir taxinya. Persatuan dan kebersamaan masyarakat Gwangju membuat saya berpikir bahwa hal itu sangat penting untuk mencapai keinginan bersama yaitu keadilan.  

Saya juga sangat menyukai sikap Peter sebagai jurnalis ia sangat profesional dalam keadaan apapun, ia tetap meliput peristiwa yang terjadi di depan matanya dan memperjuangkan bagaimana pun caranya peristiwa tentang pemberontakan di Gwangju itu harus disiarkan bahkan dengan taruhan nyawa. Didalam film ini juga menekankan tentang para jurnalis yang dilarang untuk menyiarkan berita, merekam peristiwa, bahkan diminta untuk menyiarkan berita palsu yang sedang terjadi di Gwangju sampai stasiun berita dibakar habis oleh pemerintah karena tiga orang jurnalis asal Korea Selatan melanggar larangan tersebut.

Sinematografi dari film A Taxi Driver ini juga harus diapresiasi karena pengambilan gambar yang realistis saat tentara menembaki warga, saat menyaksikan film ini suasana tahun 1980 sangat terasa. Efek suara yang mendukung saat terjadi ledakan atau masa tegang sangat diperlihatkan dengan baik. Karakter masing-masing orang juga diperankan dengan baik sampai terasa seperti karakter aslinya.

Film ini jelas menunjukan bahwa pahlawan itu bisa siapa saja, tidak perlu bersenjata. Cukup saling bersatu, berbagi makanan kepada pendemo dijalan, berkorban demi kepentingan bersama, berbagi tempat untuk beristirahat, supir taksi yang mengantar orang terluka kerumah sakit tanpa meminta imbalan, menjadi penerjemah bahkan tentara perbatasan yang memiliki rasa kemanusiaan bisa menjadi pahlawan.

A Taxi Driver merupakan film berdasarkan sejarah yang cocok disaksikan bersama keluarga, film ini menghadirkan nuansa menyenangkan, menyedihkan dan juga menegangkan. Di saksikan berulang kali pun juga tidak akan bosan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.