Batik Solo

Solo merupakan salah satu kota yang berada di Jawa Tengah, kota Solo masih termasuk dalam keresidenan Surakarta. Solo adalah salah satu kota yang masih sangat kental dengan budaya jawa, Solo juga dikenal dengan kota batik. Batik solo berawal pada masa kerajaan panjang, kerajaan. Kyai Ageng Henis adalah salah satu tokoh yang pertama kali memperkenalkan batik di desa Laweyan yang masih termasuk ke dalam wilayah kerajaan panjang. Desa ini terletak di pinggir sungai Laweyan yang dulunya merupakan pusat perdagangan bahan baku tenun, proses penjualan di pasar ini yaitu melalui bandar kabanaran, dan bandar tersebut menghubungkan antara desa Laweyan dengan sungai Bengawan Solo. Dari situlah batik terhubung dengan daerah pesisir.

IMG_0876

Batik solo pada era Keraton Surakarta bermula dari perjanjian Giyanti tahun 1755 yang mengakibatkan perpecahan antara keraton Surakarta dengan Ngayogyakarta. Saat itu seluruh pakaian kebesaran Mataram dibawa ke keraton Yogyakarta. Dan saat itu PB III memerintahkan kepada para abdi dalem untuk membuat sendiri motif batik Gagrak Surakarta. Pada abad ke 20 batik telah memasuki era industrialisasi. Batik menjadi indentitas perekonomian masyarakat jawa. Batik solo memiliki ciri khas dalam proses cap maupun tulisnya. Warna yang digunakan untuk membatik adalah soga (bahan alam). Motif batik Solo yang diciptakan itu beraneka ragam dengan harapan agar membawa kebaikan bagi yang memakainya. Salah satu motif batik solo yang terkenal itu, motif batik jenis parang, motif batik jenis barong, motif batik jenis sawat dan motif batik jenis kawung.

2

Parang Sumping

Batik parang ini merupakan batik tertua di Indonesia motif ini muncul sejak zaman keraton Mataram Kartasura yang saat ini disebut dengan Solo. Motif parang ini diciptakan oleh pendiri keraton Mataram, pada masa itu motif parang hanya boleh dipakai oleh raja dan keturunannya. Kata parang berasal dari ‘pereng’ yang artinya ‘lereng’. Motif parang itu berbentuk huruf S tidak terputus yang melambangkan kesinambungan. Batik parang itu sendiri memiliki makna yang sangat tinggi yaitu untuk tidak pernah menyerah seperti ombak laut yang tidak pernah berhenti bergerak. Selain itu batik parang juga melambangkan jalinan yang tidak pernah putus, baik dalam upaya memperbaiki diri, upaya memperjuangkan kesejahteraan, ataupun bentuk pertalian keluarga.

 

 

 

 

 

 

 

Batik Cirebon

Cirebon merupakan salah satu daerah pengrajin kain batik di Indonesia. Kain batik Cirebon merupakan percampuran antara budaya masyarakat dengan tradisi religius. Berkembangnya batik Cirebon bermula dari Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) yang dijadikan tempat persinggahan para pedagang asing antara lain, Arab, India, Persia dan Tiongkok. Dimana para pedagang tersebut menciptakan percampuran budaya dan tradisi baru, salah satunya yaitu batik Cirebon. Misalnya batik Trusmi, batik Trusmi ini adalah salah satu karya Ki Buyut Trusmi, beliau merupakan seorang pemuka agama islam di desa Trusmi. Selain menyebarkan dan mengajarkan agama islam beliau juga mengajarkan keterampilan membatik kepada warga desa Trusmi, dan akhirnya desa Trusmi dikenal dengan  kampunh batik. Batik Cirebon termasuk dalam batik Pesisiran. Namun ada juga yang masuk kedalam batik Keraton. Cirebon memiliki dua keraton yaitu, Keratonan Kesepuhan dan Keraton Kamonan dimana dari dua keraton ini muncul beragam motif batik Cirebon Klasik seperti, motif Mega Mendung, motif Paksinaga Liman, motif Patran Keris, motif Singa Payung, motif Singa Barong, motif Banjar Balong, motif Ayam Alas, dan motif lainnya. Ini adalah salah satu contoh kain batik khas Cirebon.

IMG_1113

Mega Mendung

Batik Mega Mendung merupakan salah satu motif kain batik khas Cirebon. Sejarah muncul nya motif mega mendung berasal saat seseroang melihat genangan air setelah hujan dan cuaca saat itu sedang mendung. Dan dari situlah terbentuk motif Mega Mendung yang memiliki arti Mega (Awan),  Mendung (Cuaca yang sejuk) jika disatukan berarti “Awan yang muncul ketika cuaca sedang mendung”. Adapun makna Mega Mendung yaitu bahwa setiap manusia harus mampu meredam amarah dalam situasi dan kondisi apapun. Diharapkan hati manusia bisa tetap adem meskipin dalam kondisi marah seperti awan yang muncul saat cuaca mendung yang dapat menyejukan suasana disekelilingnya.

IMG_0849

Naga Payung

Daerah Asal     : Cirebon                                 Bahan                            : Katun

Ragam Hias     : Bang Ungon                          Perwarnaan                 : Kimia

Corak/Motif     : Naga Payung                        Pembuat                        : –

Teknik              : Tulis                                       Tahun Pembuat            : ca. 1970

Batik Naga Payung ini merupakan gabungan dari binatang paksi (garuda), naga (ular), dan liman (gajah). Paksinaga Liman adalah simbol kekuatan kerajaan Cirebon yaitu udara (paksi), laut (naga), dan darat (liman).

 

Batik Yogyakarta

Yogyakarta adalah satu  kota di jawa yang merupakan cikal bakal lahirnya batik tradisional jawa. Batik yogyakarta sangat berkaitan dengan sejarah berdirinya kerajaan mataram  islam yang didirikan oleh panembahan senopati. Batik Yogyakarta tidak terlepas dari perjanjian Giyanti 1755, dimana saat itu mataram terbelah menjadi dua dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri, busana/pakaian mataram dibawa dari Surakarta ke Ngayogyakarta. Maka saat itu Sri Susuhunan Pakubuwono II merancang busana baru. Pada zaman dahulu proses membatik hanya dilakukan oleh para ratu dan putri keraton. Kegiatan membatik merupakan salah satu bagian dari pendidikan untuk para putri keraton. Namun seiring berjalannya waktu dan berkembang nya zaman batik mulai dibawa keluar dari keraton dan dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat. Batik di Indonesia dikategorikan menjadi 2 yaitu, Batik Keraton (pedalaman), batik ini mempunyai corak khas keraton dan biasa nya di dominasi dengan warna soga (coklat). Kedua, Batik Pesisiran, dimana batik ini berkembang diluar keraton, seperti didaeran pesisiran pantai utara. Batik pesisiran ini memiliki beragam motif dan warna, karena batik ini terinspirasi dari keadaan sekitar seperti birunya laut, keindahan bunga dan yang lainnya. Batik pesisiran lebih menarik dari pada batik keraton karena batik pesisiran lebih beragam akan motif dan warna. Ciri khas batik yogyakarta itu terbagi menjadi dua warna dasar kain yaitu putih dan hitam. Ini adalah salah satu contoh kain batik Yogyakarta

IMG_0862

Ragam Hias     : Sogan                                    Teknik                         : Tulis

Daerah Asal    : Yogyakarta                           Tahun Pembuatan       : ± 1965

Motif               : Parang Selin Garuda

Bahan Dasar    : Katun

Pewarnaan       : Alam

Batik ini merupakan perpaduan antara motif parang rusak barong dan gurda. Motif parang adalah salah satu motif tertua yang mempunyai arti atau makna tidak pantang menyerah. Parang rusak barong mempunyai arti yaitu pengendalian diri dalam dinamika usaha yang terus menerus, kebijaksanaan dalam gerak, dan kehati – hatian dalam bertindak. Sedangkan motif gurda menjadi simbol kehidupan dan kejantanan. Dalam pandangan masyarakat jawa garuda mempunyai kedudukan yang penting. Dimana masyarakat jawa percaya bahwa burung garuda ini adalah tunggangan Batara Wisnu atau dewa matahari.

IMG_0865

Ragam Hias     : Sogan                                    Teknik                         : Tulis

Daerah Asal    : Yogyakarta                           Tahun Pembuatan       : ca. 1940

Motif               : Pisang Bali

Bahan Dasar    : Katun

Pewarnaan       : Alam

Batik Pisan Bali atau biasa disebut dengan Pisang Bali memiliki arti yaitu, pisan artinya pertama dan bali itu artinya kembali. Batik ini mempunyai arti pengharapan dari si pembeli setelah pertemuan pertama akan membuahkan hasil yang baik, dan usaha berjalan lancar atau mereka kembali mendatangi si pengusaha untuk berjualan bersama.