Beda Buku dan Film

Pada artikel kedua kali ini akan membahas mengenai perbandingan adegan atau cerita yang ada dibuku dan film. Adegan atau cerita yang terdapat di novel tidak semuanya akan diadegan di film hal ini dikarenakan sang sutradara sudah memilih cerita yang lebih menarik untuk difilmkan atau terkadang sang sutradara mempunyai tujuan agar tidak ada pengulangan adegan pada film.

Buku yang akan dibahas adalah Harry Potter and The Half blood Prince dan Percy Jakson and The Olympians (The Lightning Thief). Kedua novel ini merupakan novel fiksi dan mempunyai daya tarik sendiri bagi penggemarnya masing-masing. Selain itu kedua novel ini mempunyai perandingan antara adegan atau cerita pada buku dan film.

Pada buku Harry Potter and The Blood Prine, tidak ada adegan runtuhnya jembatan Brokdale yang diakibatkan oleh pelahap maut, adegan ini hanya disebutkan oleh Perdana Menteri Muggle pada bab pertama buku. Tetapi pada film, adegan ini diadakan pada pembukaan film. Lalu terdapat pertempuran hebat di Hogwarts dan pemakaman Prof. Dumbledore yang nampak memukau dalam cerita di buku. Menurut David Yates, sang sutradara, pertempuran Hogwarts ditiadakan untuk menghindari pengulangan karena adegan itu akan ada di film Harry Potter and The Deathly Hallows. sedangkan hilangnya pemakaman Prof. Dumbledore karena adegan ini dianggap tidak cocok dengan akhir cerita difilm.

Di buku Harry Potter And The Half Blood Prince, Katie bell adalah kakak kelas Harry, sedangkan Romilda Vane si pengirim ramuan cinta adalah adik kelas Harry. Tetapi dalam film, mereka bertiga merupakan teman sekelas. Hal ini dikarenakan, menurut David Yates, supaya tokoh-tokoh yang dianggap penting ini bisa muncul sekaligus tanpa perlu memperbanyak adegan ceritanya.  Lalu karakter Horace Slughorn diperankan oleh Jim Broadbent memiliki karakter yang berbeda dengan versi buku. Pada film Horace tidak bertubuh pendek dan bulat. Dia juga tidak mempunyai kumis seperti kumis walrus. Baju yang ia kenakan juga tidak berbahan dari beludru.

IMG_20170426_175139.jpg

Pada buku Percy Jakson and The Olympians (The Lightning Thief). Pada buku, diceritakan bahwa Percy tidak tinggal dengan ibu kandungnya. Ibunya berada di Upper East Side, sedangkan difilm diceritakan bahwa Percy tinggal dengan ibu dan ayah tirinya. Pada buku, saat sekolah percy mengalami perselisihan dengan teman sekelasnya yaitu Nany Bobofit. Tetapi adegan ini tidak ada pada film.

Dibuku terdapat adegan disaat Percy sedang berada diperjalanan pulang kerumah, bus yang ia tumpangi berhenti dijalan karna ada masalah pada kendaraannya. Saat itu diseberang jalan ia melihat terdapat tiga orang nenek-nenek yang sedang merajut kaus kaki berwarna merah, kemudian nenek itu memotong benang dan itu merupakan pertanda bahwa akan terjadi sesuatu. Tetapi adegan ini tidak muncul pada film.

Terkadang banyak penikmat film adaptasi lebih menyukai cerita di novel dibandingkan film, karena beberapa faktor seperti, cerita yang tidak semenarik bukunya atau karakter yang tidak sesuai ekspetasi penggemar. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa penggemar juga merasa puas akan film yang dibuat, karena telah membuat cerita tersebut lebih hidup saat difilmkan. Tergantung pada masing-masing orang, lebih menyukai cerita novel yang sudah diadaptasi atau belum.

Film Adaptasi Dari Novel

Film merupakan karya seni berupa rangkaian gambar hidup yang diputar sehingga menghasilkan sebuah ilusi gambar bergerak yang disajikan sebagai bentuk hiburan. Banyaknya peminat atau penggemar film, membuat kreasi film makin berkembang seperti film yang diangkat dari kisah nyata atau biografi seseorang. Selain itu terdapat juga film yang diadaptasi dari novel. Novel adalah karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan watak dan sifat setiap pelaku.

Novel pertama yang diadaptasi difilm adalah novel Silence. Novel ini merupakan novel fiksi sejarah 1966 yang ditulis oleh Jepang Shūsaku Endō, dan diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh Peter Owen Publishers. Novel ini mengisahkan tentang seorang misionaris Yesuit yang dikirim ke Jepang abad ke-17, yang mengalami penganiayaan pada masa Kakure Kirishitan (Orang-orang Tersembunyi) yang mengikuti kekalahan Pemberontakan Shimabara. Novel ini telah beberapa kali diadaptasi seperti pada versi panggung Endo, The Golden Country, adaptasi lainnya yaitu Masahiro Shinoda mengarahkan film 1971 Silence, sebuah adaptasi dari novel tersebut. Lalu diadaptasi ulang oleh João Mário Grilo sebagai The Eyes of Asia pada tahun 1996.

IMG_20170517_160103.jpg

Pada tahun 2007, sutradara film Amerika Martin Scorsese mengumumkan niatnya untuk mengarahkan adaptasi dari buku yang dia harapkan untuk diputar di musim panas 2008. Pada tahun 2009, diumumkan di Empireonline.com bahwa Daniel Day-Lewis dan Benicio del Toro Ditandatangani untuk membintangi adaptasi film Scorsese. Pada tahun 2013, Andrew Garfield , Liam Neeson , Issei Ogata dan Ken Watanabe dilampirkan, dan film tersebut mulai diproduksi pada bulan Januari 2015. Pada tahun 2014, Adam Driver dilampirkan pada adaptasi film. Pada bulan Januari 2015, Watanabe terpaksa meninggalkan proyek karena masalah penjadwalan dan digantikan oleh Tadanobu Asano . Film ini ditayangkan perdana di Pontifical Oriental Institute di Roma pada tanggal 29 November 2016. Film Silence ini telah mendapatkan penghargaan Cinematography pada nominasi Oscar.

IMG_20170517_203715_334[1].jpg

Film yang diadaptasi novel semakin berkembang, karena banyaknya peminat novel dan berharap novel itu difilmkan. Tentu saja rumah produksi atau pembuat film memilih terlebih dahulu novel apa yang akan dijadikan film mulai dari cerita novelnya yang menarik dan banyaknya peminat novel tersebut. Karena dari banyaknya peminat novel akan membuat ketertarikan sendiri untuk film itu seperti karakter tokohnya, alur ceritanya, pengambilan setting film dan lainnya. Beberapa film yang diangkat dari novel adalah,  The Circle, Laskar Pelangi,  Supernova dan masih banyak lainnya.

Dwi Puji A. (147150473)

kelompok SD.

PILKADA DKI JAKARTA TPS NO.41 PETUKANGAN UTARA

Jakarta kembali melakukan pemilihan putaran kedua pada tanggal 19 April 2017 di beberapa TPS Jakarta. Pilkada putaran kedua dilakukan agar mengetahui hasil akhir mengenai calon gubernur baru Jakarta. P milihan pilkada kali ini berjalan dengan lancar dan pemilihan disetiap TPS dikawal oleh anggota polisi dan TNI.IMG_20170419_140612

Pilkada 2017 putaran kedua kembali dilakukan, salah satunya yang dilaksanakan di TPS Nomor 41 kelurahan Petukangan Utara pada tanggal 19 April 2017. Pemilihan pilkada pada TPS ini berlangsung dengan lancar dan tertib tidak ada kendala apapun. Antusias masyarakat juga terlihat karna saat mereka berada dilokasi berlangsungnya pencoblosan hingga penghitungan suara.

Pada TPS nomor 41 Kelurahan Petukangan Utara  terdapat 60 kepala keluarga yang terdaftar dan 432 surat suara pada TPS ini. Pemilihan suara dilakukan sekitar pukul 7 pagi dan penghitungan suara dimulai sekitar pukul 2 siang. Sebelum dilakukan penghitungan suara, terlebih dahulu dilakukan pengecekkan surat suara dimana terdapat 302 surat suara yang masuk dari 432 surat suara dan terdapat sekitar 30 surat suara yang tidak terpakai.

1492611368337

Proses penghitungan berlangsung dengan tenang, warga setempat memperhatikan dengan seksama surat suara yang buka satu per-satu oleh panitia. Penghitungan suara ditutup dengan menangnya pasangan nomor urut 3 yaitu Anies dan Sandy, dengan perolehan suara sebanyak 153 suara.

nama : Dwi Puji A.

NIM : 1471504173

kelas : SD