Sejarah Ondel-Ondel dari Betawi

FullSizeRender (1)

Apasih yang akan kalian bayangkan saat mendengar Ondel-ondel? Pasti kalian membayangkan sepasang boneka laki-laki dan perempuan yang tingginya kurang lebih 2 meter. Boneka laki-laki memiliki wajah merah, berkumis, dan seram, wajahnya yang merah tersebut diartikan sebagai pemberani. Sedangkan boneka perempuan berwajah putih dan memakai anting-anting. Ondel-ondel laki-laki, dipanggil si Grantang atau si Jampang. Sedangkan Ondel-ondel perempuan, biasa dipanggil empok Ani.

Tentunya boneka yang biasa kita sebut Ondel-ondel ini memiliki sejarahnya sendiri, tidak ada yang tahu pasti mengapa boneka ini dinamai Ondel-Ondel. Kabarnya, dulu Ondel-Ondel disebut Barongan. Ondel-ondel dulu berfungsi sebagai penolak bala, penolak hal-hal jahat atau penolak roh halus yang dipercaya mengganggu manusia. Makanya, itu alasan mengapa ondel-ondel berwajah seram.

FullSizeRender

Lalu kenapa bisa disebut Barongan? Karena diarak bersama-sama atau barengan maka si boneka besar pengusir roh jahat ini disebut Barongan. Lalu sejak kapan ondel-ondel masuk ke tanah Betawi? Tidak ada yang tahu pasti, tapi dari beberapa catatan yang saya baca, ondel-ondel sudah ada di Betawi dari tahun 1600an. Diceritakan pada saat itu sudah banyak rakyat yang memainkan boneka besar yang diarak seperti sedang menari di pinggir jalan. Tidak ada yang tahu apakah itu ondel-ondel atau bukan, tetapi yang pasti karena berbentuk besar dan diarak beramai-ramai, diperkirakan itulah catatan awal ondel-ondel.

Sampai saat ini masyarakat Betawi di wilayah Bekasi, Cikarang sampai Tambun pun masih menyebutnya Barongan. Bicara soal Ondel-ondel, enggak afdhol kalo kata orang Betawi, jika pengantin sunat diarak dengan satu Ondel-ondel. Makanya setiap kali tampil, ondel-ondel selalu berpasangan.

Tentunya, Ondel-Ondel dapat digerakkan dengan bantuan orang yang mau masuk ke dalamnya. Ondel-Ondel ini akan menari dengan diiringi musik-musik Betawi. Kabarnya, jika ondel-ondel saling bertemu, biasanya keduanya akan adu kekuatan. Tak jarang, orang yang memainkan ondel-ondel itu sampai kesurupan.

Masyarakat Betawi pun harus berbangga hati, karena kesenian ondel-ondel hingga saat ini terus dilestarikan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, khususnya Dinas Kebudayaan Betawi. Bahkan setiap tahunnya diadakan Lebaran Betawi, Pekan Raya Jakarta, dan Festival-festival seperti Festival Palang Pintu hingga dibentuknya Perkampungan Betawi Setu Babakan sebagai tempat wisata dan situs Kebudayaan Betawi.

 

Berikut wawancara saya dengan Bang Madih selaku ketua salah satu Sanggar Palang Pintu di Bekasi tentang Ondel-Ondel yang kebetulan beliau saya temui di Festival Palang Pintu XII, Kemang, Jakarta Selatan.

Sejarah Palang Pintu Betawi

Palang Pintu adalah suatu  tradisi adat yang ada dalam pernikahan orang betawi, Biasanya Palang Pintu ada dalam pernikahan orang betawi saat calon pengantin pria berserta rombongannya datang ke kampung atau ke rumah calon pengantin wanitanya pada saat hendak melamar pengantin wanita. Palang Pintu secara bahasa terdiri dari dua kata Palang dan Pintu. Palang dalam bahasa Betawi adalah penghalang agar orang lain atau sesuatu tidak bisa lewat, Pintu adalah pintu jadi bisa diartikan Palang Pintu adalah tradisi Betawi untuk membuka penghalang orang lain masuk ke daerah tertentu dimana suatu daerah mempunyai jawara sebagai penghalang atau palang dan biasa di pakai pada acara pernikahan atau besanan.

IMG-20170506-WA0020

Di dalam proses Palang Pintu ini berlangsung adu pantun dan silat di antara Palang Pintu pria dan wanita yang dimana nantinya palang pintu wanita kalah dan memberikan jalan masuk untuk calon pengantin pria, Pantun dan silat memiliki maknanya sendiri-sendiri pantun memiliki makna bahwa seorang pria harus bisa membuat  keluarganya nanti ceria atau bahagia dan silat memiliki makna bahwa pria harus bisa memiliki kemampuan untuk menjaga atau melindungi keluarganya, Ada juga sholawat serta Qori untuk membacakan lantunan ayat suci Al-Quran yang memiliki makna pria harus bisa menjadi imam yang baik untuk keluarganya biasanya pembacaan ayat suci Al-Quran ini dibacakan setelah beradu pantun dan silat.

IMG-20170520-WA0001

Tradisi palang pintu  awalnya berasal dari betawi tengah dan Betawi kota, Betawi pinggiran biasa menyebut palang pintu dengan  sebutan rebut Dandang. Seiring berjalannya waktu, Sekarang palang pintu tidak hanya untuk proses pernikahan orang Betawi. Sekarang palang pintu juga dipakai untuk menyambut pejabat datang ke suatu daerah.

Pada tanggal 6-7 mei 2017, Jakarta menyelenggarakan Festival Palang Pintu yang ke-12 yang berlokasi di JL. Raya Kemang Jakarta Selatan. Festival ini mempertunjukan segala sesuatu yang berkaitan dengan tradisi Palang Pintu, Mulai dari menghadirkan kedua mempelai pengantin hingga mendatangkan jawara silat Betawi. Para pemantun pun juga tidak ketinggalan mengisi festival yang berlangsung dua hari ini.

IMG-20170520-WA0000

Sejarah Palang Pintu Betawi

Adu Pantun dan Silat