The Nekad Traveler: Pilih Novel atau Film?

Halo semuanya!

Ketemu lagi di tulisanku tentang perbandingan antara novel vs film. Kira-kira kali ini, ada yang bisa menebak novel siapa atau apa yang bakalan dibahas? Hm hm hm … ayo tebak, hehe. Di kesempatan kali ini, aku mau me-review satu judul film yang diadaptasi dari novel series. Waw, apakah itu? Yep, judulnya adalah The Naked Traveler karya Trinity (nama sengaja disamarkan, biar orang penasaran kata Mbaknya ini. huft) yang diterbitkan oleh C | Publishing (PT Bentang Pustaka).

IMG20170525170958

Omong-omong soal novel ini, aku belinya sudah cetakan ke-27 di tahun 2017 ini. Huhuhu! Sedih banget, merasa kayak … hellow, kemana aja aku selama ini? Sejauh ini, sudah ada 7 buku dengan judul yang sama. Semuanya adalah pengalaman Trinity—yang mengaku sebagai Mbak-Mbak kantoran suka jalan-jalan ini—selama ia menjadi backpackers independen. Pengalamanku sendiri setelah membacanya adalah campur aduk. Cengar-cengir nggak jelas, deg-degan ketika membaca bagian Mbak Trinity datang ke tempat yang mistis, sampai terbahak karena adegan lucu atau kesialan paling buruk baginya. Mulai dari tertipu informasi internet perihal Cyprus yang katanya tidak memerlukan visa nyatanya Mbak Trinity dan keluarga harus kembali “dilempar” ke Jakarta sebab tak memiliki visa.

3

Atau kesialannya saat harus tertinggal kereta di Semarang hanya karena penyebutan pukul 5 yang ia kira adalah 5 sore teryata 5 pagi. Yang paling menyedihkan adalah diskrimasi kulit saat ia sedang di perjalanan dari Paris – Roma.

4

Bahkan sampai hal konyol ketika trekking di Caribbean Nation Forest karena ikut tur di Puerto Ricco. Tour guide-nya membawa rombongan dan memperkenalkan keindahan tanaman pisang sambil teriak, “Now Ladies dan Gentlemen, this is … banana tree!” dan semua orang sibuk memotret kecual Mbak Trinity yang hanya bisa mendesah lemas.

IMG20170525142237

 

Pokoknya, buku ini keren banget. Mbak Trinity yang sudah berkunjung ke hampir semua provinsi di Indonesia dan 33 negara di dunia berhasil bikin aku bengong sambil berkhayal ekstrem. Big applause for her. Aku mau banget! Dan, bagiku, dia itu betul-betul nekad, sama seperti judul film yang diadaptasi dari buku ini. Ada yang sudah tahu? Film karya Rumah Produksi Tujuh Bintang Sinema ini diberi judul The Nekad Traveler. Disutradarai oleh Rizal Mantovani dan dibantu penulis skenerio Rahabi Mandra.

Yang paling bikin kerennya lagi adalah main cast atau sebagai Mbak Trinity itu sendiri adalah Maudy Ayunda (I love her so much!). Namun sayang, menurutku pribadi, lagi dan lagi (Kayaknya aku selalu mempermasalahkan main cast), Maudy Ayunda belum bisa sebagai Trinity yang terlihat tomboy, easy going dan agak liar. Apalagi lawan mainnya adalah Hamish Daud, yang bukan hanya sekadar umurnya saja tua, tetapi fisiknya pun kalau disandingkan dengan Maudy, mereka lebih cocok disebut sebagai kakak-adik. Selain itu, banyak juga kejadian-kejadian yang justru paling berkesan bagi (tiap pembaca pasti punya versi masing-masing) justru tidak ada di dalam film. Mengingat memang durasi yang terbatas.

Terlpeas dari itu semua … pengambilan gambarnya sangat membantu karena memang lokasinya adalah keindahan alam di 3 negara; Indonesia, Filipina dan Maladewa. Juga, peran kocaknya Ayu Dewi sebagai Bu Boss dan Babe Cabita yang latar belakang mereka adalah pelawak cukup menghibur. Bahkan, saat menonton trailer saja, aku langsung tertawa. menarik. Kalau kalian nggak percaya, silakan diputar trailer di bawah ini. Jangan kepengin ya, karena sudah tidak tayang lagi. Hehe.

Dan, itulah beberapa hal yang menurutku paling kuingat baik dari novel maupun filmnya. Satu kata untuk karya ini; GILA!

Critical Eleven; Versi Novel dan Film

Halo semuanya!

Untuk kesempatan kali ini, aku mau me-review satu judul film yang diadaptasi dari novel best seller. Waw, apakah itu? Yep, judulnya adalah Critical Eleven karya Ika Natassa. Ada yang nggak kenal sama penulis kece satu itu?

IMG20170518135131

Untuk novelnya sendiri diterbitkan tahun 2015 lalu oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Sementara filmnya dinaungi oleh Starvision Plus Legacy Pictures dengan disutradari oleh Monty Tiwa dan rilis pada 10 Mei 2017 lalu. Di sini, aku bukan mau memberi sinopsis atau rangkuman dari ceritanya, sebab aku yakin, banyak dari teman-teman yang mungkin sudah membaca atau bahkan lebih dulu daripada aku, he-he. Aku hanya ingin membagikan pendapatku tentang relevansi dari novel dan filmya. Kenapa begitu? Menurutku sebagai pecinta novel, banyak hal yang nggak bisa diceritakan melalui gambar atau video. Itulah kenapa, aku menyebutnya; kekuatan kata.

Sama halnya dengan Critical Eleven. Ada beberapa adegan yang dalam imajinasiku nggak bisa terealisasikan dalam filmnya. Bukan berarti para pemain enggak maksimal (siapa sih yang meragukan akting dari aktor kenamaan semacam Reza Rahardian?), tetapi memang setiap orang akan memiliki imaji dan ekspektasi yang berbeda. Jadi, saat dikomunikasikan lewat gambar dan video, hasilnya akan mendapat respon yang beragam. Bagiku pribadi, ada beberapa keganjalan yang nggak sesuai dengan apa yang kubayangkan ketika membaca novelnya, yaitu;

  1. Di awal-awal perkenalan dalam novel, Anya (tokoh utama cewek) mengatakan kalau Ale (tokoh utama cowok) memiliki tubuh tinggi dan Anya hanya sebatas pundaknya. Namun, dalam filmnya, Adinia Wirasti terlalu tinggi untuk memerankan sosok Anya. Bahkan, tingginya dengan Reza Rahardian sebagai Ale hampir sama. Bayanganku pada sosok Anya adalah gadis manis dan cantik, tetapi Adinia terlalu ‘sporty’ dan ‘wanita karir’ untuk sosok Anya.1
  2. Di adegan Ale dan ayahnya sedang berbicara. Di dalam novel, dikatakan kaau Ibunya Ale tidak tahu permasalah rumah tangga Ale saat ayahnya bertanya tentang rumah tangga Ale dan Anya yang buat Ale kaget atas pengetahuan ayahnya itu. sedangkan dalam film, dibuat kalau ibunya Ale juga lebih mengetahui tentang kondisi rumah tangga Ale-Anya.2
  3. Alur cerita. Dalam novel, lebih dibuat maju-mundur sementara di film dibuat maju. Dan, ini menurutku nggak masalah sih, karena kalau dalam film memang lebih enak alur maju.
  4. Intonasi. Entah hanya aku yang merasa atau memang Anya dalam film terlihat sangat kaku saat menyebut kata ‘Le’. Padahal, dalam bayangkanku, itu adalam momen manis percakapan Anya dan Ale.

Terlepas dari itu, aku juga mau memberi kelebihan dari versi filmnya, antara lain:

  1. Soundtrack dari Isyana Sarasvati yang berjudul Sekali Lagi menambah kesan ‘dalam’ untuk suasana haru. Apalagi di scene Aidan (anak mereka) meninggal dan saat Anya menangis di kamar yang sudah dipersiapkan untuk anak mereka.
  2. Pengambilan gambar untuk set wilayah: New York. Membuat imajinasi tentang keindahan kota sebagai saksi mereka semakin cantik.
  3. Pekerjaan Ale. Bagi aku pribadi, Perminyakan itu asing karena belum pernah lihat secara riil. Namun, dengan adanya gambar di film, semuanya semakin jelas.
  4. Tambahan ending sampai anak kedua mereka besar juga berkumpul bersama semua keluarga juga manambah kesan yang manis, bahwa cinta memang benar bisa menyembuhkan luka.

Dan, itulah beberapa hal yang menurutku paling kuingat baik dari novel maupun filmnya. Berikut ada trailer dari film Critical Eleven dan teman-teman bisa membandingkannya sendiri. Semoga menikmati. Sampai bertemu di review berikutnya!

 

TPS 13, Petukangan Utara

IMG20170419150326

Umi Astuti – 1471501096 – SA

19 April 2017 lalu, DKI Jakarta menggelar pesta rakyat sebagai ajang pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk lima tahun ke depan. Nasib ibukota ditentukan dari pilihan warga Jakarta itu sendiri. Sebelumnya, semua orang pasti tahu drama yang menyelimuti kota metropolitan ini. Jauh sebelum hari pencoblosan, masing-masing pendukung paslon tak segan untuk saling lempar serangan guna membela kandidat dukungannya dan menjatuhkan pasangan lain.

Unsur SARA menjadi satu indikator dalam drama PILKADA. Beberapa orang bahkan tak merasa bersalah saat menghina saudara dan teman sendiri yang memutuskan untuk memilih pilihan yang berbeda. Entah itu karena alasan idealis, suku, hingga agama. Bukan hanya warga Jakarta yang merasakan ramai dan hebohnya drama seputar PILKADA, hampir seluruh rakyat Indonesia ikut merasakan sebab semua media nasional tak berhenti mempertontonkan tayangan itu. Begitulah, sebab Jakarta adalah ibukota. Pusat dari Nusantara. Seakan, apapun yang terjadi di Jakarta, seluruh bangsa harus tahu. Padahal, siapapun yang menjadi gubernur dan wakil gubernur Jakarta, belum tentu ada pengaruhnya untuk warga daerah lain.

Terlepas dari kisah dibalik PILKADA, aku sebagai mahasiswa rantau mau tidak mau harus terlibat (meskipun sederhana) atas nama tugas dari dosen. Aku ingat betul, dua hari menjelang PILKADA, dosenku meminta masing-masing dari mahasiswa untuk memotret formulir C1 di TPS yang dia tentukan. Kecuali bagi mahasiswa yang mencoblos di hari itu, maka ia diizinkan untuk memotret C1 di TPS tempat ia mencoblos. Namun, ada beberapa yang dosen itu izinkan untuk request TPS terdekat agar memudahkan proses produksi. Aku salah satunya. Memilih TPS 13 yang berada dekat dengan indekos.

Akhirnya, sore hari pada 18 April , aku datang ke sekretaris RT, Masjidil Harom dikarenakan ketua RT-nya sedang sakit dan memberikan amanah kepada sekretaris itu untuk mengurus TPS 13 pada 19 April 2017. Saat aku menyapa istri dari sekretaris RT, mengutarakan maksudku untuk mengambil gambar formulir C1 dan merekam suasana TPS, dia langsung bertanya, “Kamu dari tim sukses siapa?” Bagiku itu lucu. Membuktikan betapa panasnya PILKADA putaran II DKI Jakarta tahun ini. bahkan, untuk sebuah formulir C1 yang seharusnya semua orang boleh mendokumentasikan, mereka meminta surat izin dan persetujuan dari saksi dan panitia. Mereka mengira kalau aku adalah utusan partai PKS (entahlah, alasan apa yang membuat mereka berpikir hal demikian).

Tepat di hari eksekusi, 19 April 2017, sekitar pukul 07:00 WIB, aku dan dua temanku (Cahya dan Laili) datang ke TPS 13 untuk meminta izin sebelum proses pencoblosan dilakukan. Pihak panitia mengizinkan dan meminta kami datang kembali di saat penghitungan suara. Setelah itu, kami bertiga mengantarkan Cahya datang ke TPS tempat dia harus mengerjakan tugas, yaitu TPS 20. Usai mendapatkan izin, Cahya dan Laili menunggu di kamar indekosku. Beberapa menit berselang, musibah datang, perutku terasa nyeri luar biasa. Cahya dan Laili panik, mengerik punggung, membeli obat ke apotik diantar oleh Adi (yang beberapa menit setelah aku kesakitan datang karena dia juga harus mengerjakan tugas di TPS 12).

Oleh karena obat dari apotik tidak bekerja dengan baik, akhirnya aku memutuskan untuk datang rumah sakit petukangan diantar oleh Adi. Dokter memutuskan untuk memberi obat melalui infus dan ternyata aku menderita asam lambung. Luar biasa. Di hari yang seharusnya mengerjakan tugas negara, aku malah harus berbaring di rumah sakit. Akhirnya, Cahya meminta izin ke dosenku untuk mendapatkan keringanan dan dosenku mengizinkan kalau tugasku diwakili oleh Laili.

Jadi, Laili datang ke TPS, melihat suasana pada saat pencoblosan dan penghitungan suara sekaligus dia yang memotret formulir C1 menggunakan aplikasi Kawal Pilkada. Setelah semua selesai, aku mewawancari Laili untuk bahan review tugas ini. menurutnya, suasana di TPS 13 cukup kondusif. Warga menyambut pesta rakyat itu dengah antusias. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Apalagi, ada beberapa orang yahg Laili lihat mengenakan baju adat  betawi. Dan, yang lebih lucu saat proses penghitungan suara. Menurut Laili, anak-anak dan ibu-ibu berteriak heboh hingga salawatan saat pasangan calon nomor ururt 3 yang mendapatkan suara. Dan, sebaliknya, menyoraki dengan ledekan saat pasangan calon nomor urut 2 yang mendapatlan suara. Namun, sejauh yang Laili lihat, tak ada konflik berarti. Semua masih berjalan normal dan kondusif.

Aku menyesal karena tidak bisa menyaksikan langsung PILKADA putaran II ini, karena entah kapan lagi Jakarta akan dihebohkan drama hingga negara lain mengetahui. Namun, siapapun yang akan menjadi pemimpin Jakarta, semoga bisa menjadikan ibukota lebih baik. Akhir kata, #TerimakasihAHok dan #SelamatBekerjaAnies