Nirwana di Balik Laut Selatan

Pantai Menganti merupakan nirwana laut selatan Pulau Jawa yang lokasinya berada di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kebumen, Jawa Tengah. Waktu tempuh dari pusat kota Kebumen kurang lebih sekitar 1 jam 45 menit menggunakan kendaraan pribadi. Sebab, angkutan umum belum ada yang beroperasi menuju obyek wisata tersebut.

Biaya tiket masuknya pun sangat terjangkau, dengan membeli tiket sebesar 10 ribu rupiah kita sudah bisa menikmati hamparan laut luas yang dihiasi pasir putih dan batu karang di sepanjang pantai.

Nama Menganti konon berasal dari kata menanti/penantian. Dikisahkan pada jaman dahulu ada seorang panglima perang Kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke pesisir selatan Jawa karena hubungannya dengan pujaan hati tak direstui sang raja. Mereka kemudian berjanji bertemu di sebuah pantai berpasir indah.

Berhari-hari sang panglima menanti sang pujaan hati yang tak kunjung datang, di atas bukit kapur sambil memandang laut lepas. Lokasi tempat menanti sang panglima tersebut kemudian dinamakan Pantai Menganti.

Pantainya tergolong masih perawan, karena pantai tersebut belum terjamah oleh banyak orang. Kebanyakan pengunjungnya didominasi wisatawan lokal saja (warga kebumen dan sekitarnya). Padahal panorama yang disuguhkan tidak kalah menarik dengan pantai-pantai yang berada di Bali.

Menganti dikelilingi oleh bukit-bukit yang membentang di sepanjang pantai. Di bukit tersebut kita bisa menyewa villa untuk menginap ataupun saung untuk bersantai. Sekaligus mata kita menikmati hamparan samudera biru, serta pemandangan nan elok dari bukit-bukit yang mengelilingi pantai.

Bagi para penikmat sunset (matahari terbenam), di pantai ini juga terdapat tempat untuk melihat panorama sore tersebut. Tepatnya berada di sebuah jembatan yang menghubungkan batu karang yang besar. Di sana kita bisa berfoto-foto ria sekaligus merasakan suasana romantis bersama pasangan.

Setelah puas bermain di pantai, kalian juga bisa mencari kuliner atau cindera mata yang dijual oleh penduduk sekitar. Walaupun berada di obyek wisata, dagangan yang dijual pun harganya masih terjangkau.

Pokoknya bagi kalian yang suka jalan-jalan jauh, kalian wajib mampir ke Pantai Menganti. Banyak sekali yang bisa kita eksplorasi di tempat ini, tentunya dengan harga yang terjangkau juga. Jadi kalian tidak perlu khawatir mengatur jadwal liburan kalian jika pergi ke tempat ini. (Yefta Andrew/SA/1471505345)

Menelisik Monumen Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman

Jenderal Soedirman merupakan pahlawan nasional yang dikenal oleh semua lapisan masyarakat Indonesia. Begitu juga namanya yang diabadikan sebagai nama jalan protokol di kota-kota di Indonesia, termasuk di Jakarta. Dirinya pun disebut sebagai pejuang gerilya karena perangnya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi

Namun demikian, terdapat sepenggal sejarah hidup Jenderal Soedirman yang mungkin belum banyak diketahui oleh masyarakat. Salah satunya mengenai tempat kelahiran Jenderal Soedirman. Banyak yang menganggap beliau berasal dari Yogyakarta, karena jejak perjuangannya memang banyak dilakukan di kota tersebut, termasuk makamnya yang ada di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta.

Sebuah monumen yang berjarak 32 kilometer dari pusat kota Purbalingga menjadi saksi sekaligus penanda sejarah kelahiran sang panglima besar. Monumen tersebut diberi nama, Monumen Tempat Lahir (MTL) Jenderal Soedirman, karena di monumen tersebut terdapat sebuah rumah, di mana Jenderal Soedirman dilahirkan sekaligus dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Jenderal Soedirman lahir di Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, pada tanggal 24 Januari 1916.

Monumen tersebut diresmikan pada 21 Maret 1977 oleh Jenderal Soerono, pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Di halaman monumen tersebut terdapat dua bagian utama, yaitu ruang diorama (replika perjuangan Jenderal Soedirman) dan rumah kelahiran sang Jenderal. Selain itu terdapat juga sebuah masjid dan perpustakaan.

Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar 5 ribu rupiah, pengunjung sudah bisa mendapatkan pengetahuan tentang sejarah kelahiran dan perjuangan Jenderal Soedirman. Terutama ketika kita masuk ke ruangan diorama. Diruangan tersebut terdapat replika-replika sejarah Jenderal Soedirman, mulai dari ia lahir, masa-masa perjuangan perangnya melawan Belanda, ketika ia dilantik oleh Soekarno menjadi Panglima Besar, hingga ia wafat (29 Januari 1950) pada umur 34 tahun. Selain itu, diruangan tersebut juga terdapat replika tandu yang digunakan sang jenderal untuk melakukan gerilya, serta peta perjalanan perang gerilya Jenderal Soedirman.

Ditengah halaman monumen, terdapat sebuah rumah yang menjadi tempat kelahiran sang jenderal. Meski hampir seluruh kondisi rumahnya mengalamai pemugaran,namun bentuk dan posisi rumah tersebut tetap dipertahankan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Purbalingga. Rumah tersebut berbentuk Joglo dengan bagian depan diperuntukan sebagai teras. Sementara dindingnya masih tersebut dari anyaman bambu. Di dalam rumah tersebut terdapat dua buah kamar. Salah satu dari kamar tersebut, merupakan kamar di mana Jenderal Soedirman dilahirkan. Dikamar ukuran 3×3 meter tersebut, terdapat sebuah replika kasur ayunan yang dulunya digunakan oleh Soedirman ketika masih bayi. Sementara di kamar lainnya terdapat sebuah tempat tidur yang tertutup kelambu.

Sayangnya, meski merupakan tempat saksi sejarah lahirnya Jenderal Soedirman, keberadaan monumen ini belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Hingga saat ini, tak banyak orang yang terlihat mengunjungi monumen tersebut. Mungkin karena lokasinya yang jauh dari pusat kota Purbalingga ataupun kurangnya kesadaran masyarakat terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia. (Yefta Andrew/SA/1471505345)

 

Pilkada DKI Jakarta Putaran Kedua di TPS 22 Petukangan Selatan

 

Rabu, 19 April 2017 merupakan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Dalam putaran kedua ini, menyisakan dua pasang calon cagub dan cawagub yaitu pasangan nomor urut 2, Basuki Tjahja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, serta pasangan nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Proses pemungutan suara dimulai serentak  di seluruh TPS pada pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB (khusus yang terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap). Namun untuk DPTB (Daftar Pemilih Tambahan) hanya diberikan waktu untuk menyuarakan hak pilihnya mulai pukul 12.00 WIB – 13.00 WIB. Di tempat saya meliput di TPS 22, Kelurahan Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, proses pemungutan suara berjalan dengan tertib dan lancar. Dari jumlah DPT (570 peserta) yang terdaftar di TPS 22, tidak semuanya hadir. Sisanya hanya dari DPTB yang jumlahnya tidak begitu banyak. Sehingga pada akhirnya total suara yang masuk hanyalah 524 suara. Dari hasil suara yg masuk, Pasangan nomor urut 2 unggul dengan perolehan 302 suara, diikuti dengan pasangan nomor urut 3 dengan perolehan 215 suara. 7 suara lainnya dinyatakan tidak sah oleh Panitia Pemungutan Suara. (Yefta Andrew/1471505345/SA)

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=n2hmtpPyqIM&w=560&h=315] Rabu, 19 April 2017 merupakan putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Dalam putaran kedua ini, menyisakan dua pasang calon cagub dan cawagub yaitu pasangan nomor urut 2, Basuki Tjahja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, serta pasangan nomor urut 3, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno. Proses pemungutan suara dimulai serentak di seluruh TPS pada pukul 07.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB (khusus yang terdaftar sebagai Daftar Pemilih Tetap). Namun untuk DPTB (Daftar Pemilih Tambahan) hanya diberikan waktu untuk menyuarakan hak pilihnya mulai pukul 12.00 WIB – 13.00 WIB. Di tempat saya meliput di TPS 22, Kelurahan Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, proses pemungutan suara berjalan dengan tertib dan lancar. Dari jumlah DPT (570 peserta) yang terdaftar di TPS 22, tidak semuanya hadir. Sisanya hanya dari DPTB yang jumlahnya tidak begitu banyak. Sehingga pada akhirnya total suara yang masuk hanyalah 524 suara. Dari hasil suara yg masuk, Pasangan nomor urut 2 unggul dengan perolehan 302 suara, diikuti dengan pasangan nomor urut 3 dengan perolehan 215 suara. 7 suara lainnya dinyatakan tidak sah oleh Panitia Pemungutan Suara. (Yefta Andrew/1471505345/SA)