Obat Batuk Herbal

DSC09510.JPG

Hidup Di zaman yang serba sibuk seperti saat ini kesehatan Merupakan suatu hal yang cukup berharga untuk setiap manusia guna melakukan aktifitas sehari – hari, mulai dari aktifitas ringan sampai aktifitas berat. Apalagi untuk orang yang memiliki banyak aktifitas dan kegiatan yang sibuk.  kesehatan merupakan faktor utama penentu produktifitas manusia dalam menjalankan aktifitasnya. Jika Kita tidak bisa menjaga kondisi badan kita tetap sehat tentu produktifitas kita akan menurun. Bila kondisi tubuh tidak dalam keadaan yang sehat maka perlu dilakukan pengobatan dengan cara ke doktor atau bisa dengan hanya meminum obat – obatan herbal yang sudah ada dari para leluhur kita.

Maka dari itu kesehatan penting untuk dijaga, mulai dari olahraga sampai meminum vitamin agar tubuh tetap bugar. Selain dengan berolahraga dan meminum vitamin kita bisa membuat tubuh kita tetap bugar dengan meminum obat herbal, contohnya seperti Obat Batuk Herbal yang akan saya bahas saat ini. Obat Herbal sendiri biasanya terdiri dari bahan tumbuhan, bahan hewan dan bahan mineral, tetapi Obat Herbal yang akan saya bahas adalah Obat Herbal yang terdiri dari bahan tumbuhan dan bahan mineral.

Obat Batuk Herbal ini dapat mencegah dan mengobati sakit tenggorokan, batuk serta dapat menyembuhkan penyakit yang sering diderita orang Indonesia pada umumnya yaitu masuk angin.Obat Batuk Herbal ini terdiri dari berbagai macam bahan yang sering kita jumpai didapur kita, yaitu Jahe, Kunyit, Sere, Madu dan Jeruk Nipis. Bahan – bahannya bisa terbilang murah namun cukup efektif untuk melawan dan mencegah penyakit – penyakit yang sudah disebutkan tadi. Penyajiannya yang enak adalah dengan kondisi hangat dan rasanya pun enak untuk dinikmati pada cuaca dingin sebagai pengganti teh dan kopi.

Pembuatannya pun cukup mudah yaitu cukup memotong – motong 3 ruas jari Jahe, 3 ruas jari kunyit, 2 batang sere ditambahkan 500 ml air, lalu direbus hingga mendidih sampai air berubah berwarna coklat kemerehan. Setelah itu isi setengah gelas dengan air hasil rebusan dari bahan – bahan tadi, lalu di tambahkan 1 sendok makan madu dan jeruk nipis secukupnya. Minumlah saat air tersebut panas atau hangat.

Setelah meminum Obat Batuk Herbal tersebut langsung terasa nikmat ditenggorokan dan badan akan terasa hangat. Cocok untuk mengobati penyakit tenggorokan, batuk serta masuk angin.berikut adalah video cara pembuatan Obat Batuk Herbal :

Khasiat Daun Binahong

binahong

Binahong merupakan tanaman liar yang dapat tumbuh dimana saja. binahong ini tumbuh merambat, tidak memiliki batang dan pertumbuhannya mengikuti sinar matahari. Binahong memiliki bentuk daun yang melengkung dengan bentuk bagian yang dekat dengan batang menyerupai hati.

Tanaman ini banyak memiliki berbagai khasiat yang sangat bermanfaat untuk menyembuhakan berbagai macam penyakit, baik penyakit ringan maupun berat. Tidak hanya di Indonesia saja, tanaman binahong ini dapat ditemukan di berbagai Negara, seperti Cina, Madagaskar, dan Korea. Di Cina daun binahong ini sudah sangat sering digunakan untuk obat dalam maupun obat luar yang dikaji dalam bentuk teh. Tanaman ini sudah lama ada di Indonesia, tetapi hanya sebagian orang saja yang tahu apa manfaat dari tumbuhan ini, baru akhir-akhir ini lah tanaman ini menjadi obat alternatif bagi sebagian orang untuk dijadikan obat alami untuk menyembuhkan atau mengurangi beberapa penyakit ringan maupun berat.

Untitled

Manfaat yang dihasilkan dari daun binahong ini banyak sekali, tidak hanya untuk kesehatan , tetapi daun binahong ini dapat digunakan untuk obat kecantikan seperti mengobati jerawat, menghaluskan kulit wajah, mengecilkan pori-pori atau menghilangkan flek hitam.

Di jaman yang modern ini, masih banyak masyarakat yang masih menggunakan daun binahong in, karena banyak khasiatnya dan sudah terbukti. Salah satunya Yayah, ia menggunakan tumbuhan binahong ini sudah lama sekali dan sampai sekarang ia masih memilih daun binahong sebagai obat yang digunakannya.

Menurut Yayah khasiat dari binahong itu sendiri dapat menurunkan panas, demam, dan sakit gigi. Tapi, selain itu masih banayak lagi khasiat dari daun binahon bagi kesehatan seperti, gangguan maag, gatal-gatal, luka bakar, meredakan kolesterol, mengurangi asam urat, memar, pegal linu dan masih banyak lagi manfaat yang terkandung dalam daun binahong ini.

Yayah sendiri memilih daun binahong sebagai obat, karena binahong ini dapat kita temukan dimana saja, karena tumbuhan ini liar dan dapat tumbuh dimana saja, serta tumbuhan ini alami dan tidak mengandung zat kimia buatan. Tetapi tanaman ini mengandung unsur kimia alami. Dan daunnya pun memiliki antioksidan alami dan antivirus yang cukup tinggi.

Cara menggunakan atau cara mengolah tumbuhan ini sebagai obat banyak sekali cara penyajiannya, tergantung dari jenis penyakit yang dideritanya. Biasanya daun ini diolah dengan merebus daun binahong dengan air, lalu diminum. Atau bisa juga dengan cara meremas-remas atau menumbuk daun binahong ini lalu ditempelkan pada luka (untuk luka luar seperti luka borok, memar, bengkak, luka bakar dan sebagainya). Dan untuk kecantikan, dengan cara meremas-remas daun binahong samapai keluar air, lalu air itu dioleskan pada wajah secara merata, diamkan kurang lebih selama 20 menit, kemudian bilas dengan air hingga bersih.

JAMU CEKOK WARISAN BANGSA

Screenshot_2017-12-11-03-29-32-886_com.miui.videoplayer

Jamu merupakan obat tradisional khas Indonesia yang masih popular hingga saat ini. Banyak sekali macam-macam jamu yang ada di Indonesia, yang memiliki khasiat berbeda-beda. Salah satu jenis jamu yang ada di Indonesia ialah Jamu Cekok. Jamu ini diperuntukan untuk balita. Serta salah satu manfaat dari jamu cekok adalah untuk menumbuhkan nafsu makan para balita yang meminumnya. Dan biasanya para ibu-ibu Indonesia yang ingin anak-anaknya memiliki nafsu makan tinggi, memberikan Jamu Cekok Terhadap anaknya

Jamu Cekok merupkan obat legendaris khas Indonesia. Salah satu tempat pengobatan balita terkenal di daerah Ciledug dan menggunkan Jamu Cekok sebagai obat dari pengobatan tersebut yaitu pengobatan pijat balita Alm. Hj. Raya yang terletak di belakang Masjid Agung Ciledug. Tempat pengobatan ini hanya buka di hari jumat saja, dan di buka dari pagi hingga menjelang sholat Jumat saja. Walaupun hanya dibuka pada hari jumat saja, tempat pengobatan ini ramai pengunjung, yang dating dari berbagai daerah.

Screenshot_2017-12-11-03-26-09-923_com.miui.videoplayer

Biasanya para orang tua yang mengobati anaknya kepengobatan ini, agar anak-anaknya memiliki nafsu makan yang tinggi dan jauh dari penyakit. Biasanya pengobatan di sini sebelum  anak-anak di berikan Jamu Cekok, para pasien di sini dipijat terlebih dahulu lalu setelah itu diberikan Jamu Cekok sebagai pelengkap pengobatan disini.

Uniknya lagi pada pengobatan disini ialah mengenai patokan harga, pengobatan disini tidak menggunkan tarif harga untuk pembayarannya, tetapi pengunjung membarnya seikhalasnya tanpa di patokan harga.

Kini pengobatan Alm. Hj, Raya dipegang oleh anaknya ialah ibu Wati. Biasanya balita yang datang ke pengobatan ini, sebelum diberikan Jamu Cekok diurut terlebih dahulu oleh ibu Wati, lalu setelah itu barulah di beri Jamu Cekok

IMG_20171211_032821

Selain dipercaya mengembalikan nafsu makan anak, jamu cekok juga bisa mengobati cacingan, batuk, sawan, pilek, dan demam. Lalu mengapa dinamakan cekok? Dinamakan jamu cekok karena warung menjadi tujuan ibu-ibu muda yang membawa anak-anaknya untuk dicekok dengan jamu. Cekok sendiri merupakan istilah yang dalam bahasa Jawa merujuk pada cara pemberian jamu dengan mengucurkan langsung ke dalam mulut.

Screenshot_2017-12-11-03-31-20-193_com.miui.videoplayer

Jamu Cekok dipakai oleh para ibu sebagai pengganti obat medis. Walaupun harganya murah tapi Jamu Cekok memiliki segudang khasiat yang dimilikinya. Jamu Cekok adalah salah satu dari ratusan obat tradisional yang ada di Indonesia. Jamu Cekok dari dahulu hingga sekarang di percaya oleh ibu-ibu Indonesia sebagai obat alami penambah nafsu makan, dan lain sebagainya.

Pijit Tradisional Masih Menjadi Pilihan

armah 1

Biaya rumah sakit di Indonesia tergolong masih mahal. Terkadang tak terjangkau oleh sebagian masyarakat, kerena itu pengobatan alternatif sering manjadi pilihan, salah satunya Pijit Tradisional

Pastinya anda sudah tidak asing lagi dengan pijit Tradisional atau yang biasa di kenal dengan istilah urut. Selain masih dianggap efektif untuk pengobatan penyakit ringan, jasa pijit tradisional yang menjadi tradisi leluhur bangsa kita ini, juga dianggap murah itu sebabnya. Pijat Tradisional masih menjadi pilihan alternatif bagi sebagian masyarakat Indonesia, karena dianggap dapat menyembuhkan penyakit dan efektif.

Bahkan banyak diantara tukang pijit tidak memasang tarif, tergantung keikhlasan pasien, seperti Armah wanita paruh baya warga kampung jurang mangu, kecamatan pondok aren, kota Tangerang Selatan ini, dikenal karena pengalamannya menjadi tukang pijit Tradisional, biasanya pijat seperti ini ditekan dengan kuat. Dengan menggunakan telapak tangan dan ibu jari, otot-otot yang tegang dapat lemas sehingga tubuh menjadi lebih segar kembali, minyak urut yang digunakan oleh pemijit adalah minyak kelapa

armah 2

Hampir setiap hari nenek Armah mendapatkan panggilan pijit oleh masyarakat yang membutuhkan jasa pijitnya, bahkan semua kalangan dilayaninya, mulai dari pijit bayi, kesleo, dan capek. Pasiennya tidak hanya dari kampungnya sendiri, tetapi sampai ke beberapa kampung, nenek Armah biasanya memijit bayi dan orangtua. Biasanya bayi yang baru lahir nenek armah akan memijatnya sampai dengan bayi berusia 7-9 minggu kedepan

Selain pasien dapat langsung kerumahnya untuk melakukan pijit tradisional, nenek Armah juga dapat dipanggil untuk menggunakan jasa pijit tradisional di rumah pasiennya.

Syekh Tari Saman

20171202_113244

Di era modern ini, kebudayaan Indonesia sudah semakin terkikis dan memudar karena adanya kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia. Padahal banyak sekali kebudayaan Indonesia yang sudah mengharumkan nama Bangsa Indonesia itu sendiri. Salah satunya kebudayaan Indonesia dari bidang seni tari adalah Tari Saman. Tari Saman adalah tari tradisional yang berasal dari Nangroe Aceh Darussalam. Tari ini merupakan salah satu media dakwah yang mencerminkan pendidikan, keagamaan, sopan santun, kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan.

Tari Saman adalah salah satu kebudayaan Indonesia yang diakui oleh UNESCO. Ada empat hal yang harus dimiliki jika sebuah kebudayaan ingin diakui oleh UNESCO, yakni, originalitas, keunikan, nilai filosofi yang universal, serta daya tular ke masyarakat. Dilihat dari segi sejarah, Tari Saman sudah ada semenjak abad ke-13 dan dikembangkan oleh Syekh Saman.

Pada 24 April 2016 sebanyak 6600 penari Saman mewakili Anjungan Aceh pada Hari Ulang Tahun (HUT) Taman Mini Indonesia Indah. Dan pada 13 Agustus 2017 oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) total penari saman mencapai 12.262 orang yang diadakan  di Stadion Seribu Bukit, Kecamatan Blang Kejren, Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Untuk kado dari pemerintah Gayo untuk Republik Indonesia yang ke-72 tahun.

Salah satu Putra dari Aceh yang masih melestarikan budaya Tari Saman adalah Jufrizal. Jufrizal yang akrab disapa dengan ‘Bang Alex’ merupakan Syekh Tari Saman yang sudah tertarik dengan kesenian tradisional Aceh sejak usia 9 tahun. Jufrizal sudah berprofesi dan menggeluti bidang Seni Tradisional Aceh sejak 29 tahun yang lalu. Syekh Saman adalah seseorang yang memimpin dan memandu tari saman. Syekh Saman juga bertugas mengiringi gerakan tari saman. Setiap Syekh Saman memiliki ciri khas bernyanyi, bersyair dan memiliki gerakan yang khas. Jufrizal tidak ada sama sekali mengalir darah seni dari keluarganya, ia tertarik kesenian tradisional Aceh karena suka, enerjik, kebersamaan dan kebiasaan di masyarakat Aceh. Sehingga ketertarikan itu yang membuat dirinya untuk ikut dan mendalami budaya Aceh.

Bang Alex

“Lebih bagus kalo jadi Syekh itu memang Putra dari daerah tersebut karena masalahnya ini kan menyangkut soal bahasa, di dalam tarian aceh tersebut lebih kuat kepada syair. Dimana syair tersebut itu banyak bersifat pesan dan kesan untuk yang mendengarkan. Sekarang kita bayangkan saja kalau sempat yang menyanyikan itu bukan orang Aceh, otomatis syair yang dia sampaikan itu belum tentu bisa sampai kepada orang, takutnya makna yang dia sampaikan itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan atau dengan arti dari syair tersebut. Jadi lebih baik memang harus Putra dari daerah tersebut, kalau pun ada dari luar daerah tersebut diharapkan untuk belajar sedetail mungkin supaya apa yang mau dia ajarkan kepada orang, apa yang mau dia sampaikan kepada orang itu juga sampai dan tidak merubah dari makna pokoknya.” Ungkap Jufrizal.

“Semangat terus untuk belajar karena  yang kalian pelajari inilah kesenian tradisional Indonesia tanpa harus mengkotak-kotakan. Kita berbicara tentang specs yang normal. Jadi lebih semangat mempelajari kesenian Indonesia apapun jenisnya itu, apapun bentuknya itu, kalau kalian semangat untuk mempelajari tersebut berarti paling tidak kalian sudah ikut mempromosikan, untuk melestarikan dan mempertahankan kesenian tersebut. Jadi banggalah sebagai anak Indonesia, kalau kalian terus cinta, terhadap kesenian dan budaya Indonesia dan mau mempelajari baik itu keseniannya maupun filosofi dari kesenian tersebut. Semangat!” Tutup Jufrizal yang memberikan semangat kepada anak Indonesia lewat kesenian tari Saman.

 

PEMAIN ALAT MUSIK KENDANG CAMPURSARI 


Campur sari adalah sebuah karya musik yang merupakan kesenian yang tumbuh dan berkembang di daerah Jawa, terutama di daerah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan juga wilayah Jawa Timur. Campursari merupakan wujud musik yang adanya gabungan dari alat musik irama pentatonik (tradisional Indonesia) dan sebuah irama nada diatonik (barat). Dua unsur musik yang ada itu kemudian di gabungkan mengahsilkan sebuah jenis musik yang baru, yaitu dengan sebutan music Campursari. Ciri khas penyanyi campursari pun selalu memakai pakaian Kebaya sehingga menambah ketertarikan sebuah musik campursari. 

Pada awalnya musik campursari ini perkenalkan oleh Ki Narto Sabdo dengan cara menggunakan media Wayang. Di saat itu campursari masih ditampilkan dengan model yang lama yaitu adanya gabungan gamelan dan asli keroncong. Saat ini music campursari dikenal sebagai campursari modern yang dipopulerkan oleh seseorang yang bernama Manthous, ia mempopoulerkan musik campursari modern ini pada tahun 1933. Seorang Manthous yang memiliki kepekaan terhadap musiknya tersebut ia mencoba berinovasi dengan musik campursari ini dengan model campursari yang lama. Manthous menggabungkan seperangkat gamelan yaitu, misalnya: Kendang, Gong, Gender di campur dengan alat music keroncong, misalnya Ukulele, Cak-cuk, Seruling, dll. Dengan adanya inovasi tersebut munculah sebuah musik Campursari yang lebih baik, dan juga lagu-lag yang dibawakan lebih enak di dengar oleh masyarakat. Tidak hanya itu, bahkan pada saat sekarang musik campursari digabungkan dengan Gitar elektrik, Bass, dan keyboard. 

Musik campursari rata-rata digemari oleh kalangan orang tua, terlebih lagi masyarakat Jawa yang menjadikan musik campursari sebagai hiburan. Tetapi, dengan berkembangnya zaman musik campursari banyak melahirkan lagu-lagu yang juga digemari oleh kalangan anak muda. Tak hanya itu saja, adapula generasi-generasi penerus yang memilih mejadi musisi campursari. Tetapi musisi yang sudah melegenda seperti Cak Dikin dan Didi Kempot pun masih saja digemari oleh pendengar setia musik campursari. 


Kristianto Dwi Nugroho pria yang gemar memainkan alat musik kendang pun ikut turut menjadi generasi muda yang mau ikut melestarikan musik campursari. Ia mengaku menyukai musik campursari sejak ia masih duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar (SD). Menurutnya musik campursari enak didengar lantaran musik campursari itu sendiri memiliki lirik lagu yang mudah dimengerti dan dipahaminya mudah.

Didalam sebuah grup musik campursari Kristianto berperan sebagai pemain kendang. Ia mengaku suka dalam memainkan alat musik itu sejak ia masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP). 

“Saya lebih milih alat musik kendang itu karena lebih suka aja maininnya, kayaknya lebih menantang lebih sulit si kalo emang itu..” tutur Kris.

Adapun kesulitan yang didapat dalam memainkan alat musik kendang itu sendiri, karena seiringnya zaman lagu-lagu campursari pun semakin banyak. Sehingga dalam memainkan musik kendang itu sulit pada saat pergantian lagu yang dimana seorang pemain juga harus paham ketukan demi ketukan yang ada pada lagu tersebut. 

“kesulitannya itu kalo campursari kan sekarang banyak lagunya ya.kita, jadi setiap satu lagu ke lagu lain itu musiknya pasti berbeda, jadinya kita maininnya juga berbeda jadinya lebih susah” tutur Kris mengenai kesulitan yang dialaminya saat memainkan alat musik kendang. 

Jadi musik campursari pun saat ini masih mempunyai sebuah eksistensi dikalangan masyarakat, disaat banyakmya musik-musik dari luar sudah masuk kedalam Indonesia ini. Inovasi-inovasi yang terus berkembang didalam musik campursari ini pun semakin banyak, sehingga masyarakat pun tidak bosan dengan adanya musik campursari ini. 

HOBI SEKALIGUS MELESTARIKAN TARIAN TRADISIONAL INDONESIA 

Alifya Kemaya Sadra, pemuda kelahiran 29 November 1998 ini mempunyai hobi menari. Ia menyukai sebagai penari semenjak masih duduk di bangku sekolah Taman anak-anak (TK). Menjadi penari memang kegemarannya tetapi bukan hanya semata-mata untuk mengembangkan hobinya, ia juga berhasil mendapatkan pengalaman-pengalaman yang tak pernah terlupakan di dalam hidupnya.

“Motivasi sebenernya suka aja sih.. Cuma ngeliat penari tuh.. Apa ya, enak aja dan aku tahu nari itu bisa bikin banyak pengalaman gitu lho.. Pengalaman yang nggak bisa aku dapetin kalo nggak nari” Tuturnya tentang motivasi menarinya.

Alifya pernah tampil mempersembahkan sebuah tarian tradisional di hadapan para pejabat negara Indonesia bukan hanya pejabat atau rakyat Indonesia saja, tetapi ia juga pernah menampilkan tarian tradisional di hadapan pejabat Korea Selatan dan tampil dalam Festival di Beijing. Hobinya pula yang mengantarkan ia untuk terus melestarikan budaya Indonesia, khususnya tarian tradisional yang ada di Indonesia ini.

Pemuda saat ini juga bisa dikatakan jarang sekali bangga dengan budayanya. Seiring perkembangan zaman yang dimana budaya dari luar pun banyak masuk ke negara Indonesia dengan mudahnya entah itu melalui media sosial ataupun langsung. Maka dari itu anak-anak zaman sekarang pun lebih melihat arah budaya mereka ke budaya luar yang rata-rata berpakaian terbuka, adanya pergaulan bebas, dan lainnya, sehingga mereka pun melupakan kebudayaan yang ada sejak lama di Indonesia ini.
Alifya bangga karena dengan hobinya lah ia bisa sekaligus melestarikan budaya dan semakin cinta dengan apa yang diwarisi oleh nenek moyang yaitu kebudayaan, khususnya dalam tarian tradisional. Banyak remaja memilih untuk mempelajari tarian-tarian modern daripada mempelajari tarian tradisional Indonesia.
Sanggar puspo budoyo adalah tempat dimana sekarang Alifya terus belajar menggali lagi ilmu-ilmu berbagai macam tarian tradisional yang sangat beragam adanya di Indonesia. Ia rutin untuk berlatih setiap hari selasa dan hari minggu, itu semua dilakukan tanpa ada rasa malas sekalipun. Saat ini Alifya masih duduk dibangku perkuliahan, tetapi kegiatan nya di sanggar pun tidak turut mengganggu aktivitasnya di perkuliahan atau di kesehariannya. Ia bisa membagi-bagi waktunya antara kuliah dan berlatih menari di sanggar.
Dalam menari ini Alifya lebih mendapatkan suka dibandingkan dengan duka nya, karena dengan menari ini ia lebih mendapatkan teman banyak, dan bisa membawakan tari tradisional Indonesia ini ke luar.
Tak luput semua yang Alifya lakukan ini juga karena dukungan dari orang-orang terdekatnya. Khususnya orang tua dari alifya, mereka sangat mendukung penuh apa yang putrinya lakukan tersebut. Terlebih lagi mereka juga seringkali mengantar Alifya pada saat mengikuti festival ataupun tampil sebagai penari dimana pun itu.

“Ya saya mendukung dan mendorong apa yang dilakukan oleh Alifya Kemaya Sadra, karena apa yang dilakukannya selama ini ikut memberikan kontribusi dalam melestarikan budaya-budaya Indonesia, apalagi yang diambil adalah tarian tradisional yang dimana itu satu bentuk kebudayaan yang sudah mulai dilupakan oleh orang.. “Ujar Gaus sebagai orang tua dari Alifya.

Bukan hanya itu, teman-temannya pun ikut memberikan apresiasi kepada Alifya karena bangga dengan salah satu temannya itu bisa membawa sebuah tarian tradisional Indonesia hingga ke luar negeri.
Jadi, untuk para pemuda mulailah ikut bangga dengan melestarikan budaya-budaya yang Indonesia miliki, karena dengan begitu negara Indonesia pun akan lebih dikenal lagi dengan budaya-budayanya tersebut. Mengingat bahwa beberapa waktu lalu sempat budaya Indonesia diakui oleh Negara lain yang setelah diketahui baru masyarakat tidak terima dengan perlakuan tersebut. Sehingga kalau memang tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi,  mulailah bangga dan melestarikan kembali seluruh budaya-budaya yang ada di Indonesia ini, khususnya dalam Tarian Tradisional.